Tampilkan postingan dengan label HUMANIORA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HUMANIORA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Oktober 2026

MENGANTAR TATANG "PULANG"



Catatan: Hendy UP *]

    Menjelang tegak hari, di bawah bentang langit yang berawan-asap, kami menyaksikan liang lahat itu perlahan berubah menjadi gundukan tanah merah. Di dalamnya, telah "tertidur" pulas sahabat Tatang. 
    Agregat podsolik itu menyatu liat, karena diinjak-injak kaki orang yang menyayangi jazad almarhum: istri, anak-anak dan kerabat dekatnya. Ada sepasang kaki kekar temanku, Ir. Subardi, yang antusias nimbrung memadatkan gundukan tanah. Aku tak berani menduga, untaian doa apa yang dirapal sahabatku itu.
    Yaa, pada hari Selasa, 6 Oktober 2026 itu, kami berkhidmat mengaminkan doa panjang yang dipanjatkan Mas Sudjiono, di tengah hamparan TPU Lestari Lubuklinggau. Almarhum Tatang telah dipanggil "pulang", pada Senin siang, 5 Oktober 2026 di RSMH Palembang. 
    Aku tak pernah menyangka, bahwa ternyata TPU Tabalestari adalah kampung terakhirnya; dan aku bersyukur bisa mengantar dia "pulang", setelah 68 tahun dia "fantasyiru fil ardi" mengikuti takdir-Nya.***
    Namanya Tatang Suparno. Nama khas sisa peradaban Sunda; dan dia datang dari Bandung 46 tahun yang lalu. Berkarier sebagai PNS di Dinas Pertanian Kab. Musirawas hingga memasuki masa pensiun. Qodarullah, ajalnya telah tiba, mendahului kita semua. 
     Aku & mas Bardi perlahan meninggalkan area TPU di belakang istri & anak-anak almarhum. Di bawah terik mentari yang mulai menyengat, tiba-tiba aku teringat 46 tahun yang lalu, ketika pertama kali berjumpa dengan almarhum.  
    Suatu hari di akhir tahun 1980, di tengah keasyikanku menghitung produksi padi di sebuah ruangan di Kantor Camat Muarabeliti, datanglah seorang pemuda berbeban ransel gunung di punggungnya. Aku menjawab salamnya sembari mempersilakan masuk & duduk di kursi tamu. 
    Tamu itu adalah Tatang Suparno yang baru datang dari Bandung. Dengan membawa selembar surat PENUNJUKAN TUGAS dari Dinas Pertanian Kab. Mura, Tatang bermaksud menghadap Mantri Tani  Muarabeliti yang kala itu dijabat oleh Pak Bazid Sulton, yang kebetulan sedang tugas luar. Dan aku berstatus sebagai Penyuluh Pertanian yang merangkap sebagai staf Kacabdin Pertanian Muarabeliti. 
    Ke-esokan harinya, atas perintah Mantri Tani, aku disuruh mengantarkan Tatang ke Desa Margamulya agar diperbantukan kepada Sdr. Trisman Nazarudin,  sesuai bunyi surat tugas yang ditandatangani oleh Pak Abuwazir selaku Sekretaris Bimas Kab. Mura. Kala itu Sdr. Trisman yang masih lajang dengan senang hati menampung Tatang dan tinggal bersama di rumah kontrakannya di Jalan KBS Margamulya. ***
    Setelah sekian lama bergaul, aku cukup tahu karakternya. Almarhum hobi olahraga badminton, bahkan sering menjuarai berbagai event kompetisi di level kabupaten & provinsi. Dia adalah pekerja keras dan sangat bersemangat dalam mencari rizki, apa pun jenis pekerjaannya. 
    Ketika aku menjabat kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Yudhakarya tahun 1982, dialah yang membuatkan plang papan nama lembaga di depan kompleks perkantoranku. Tahun 1993, ketika kami menjadi pembina BPP Nibung (kini Muratara), pernah mendorong motor sejauh 13-an km hingga di Simpang Nibung Trans Sumatera. Sungguh menguras peluh nan melelahkan jiwa! 
    Dahulu, jika ada event pameran pembangunan, dia bersama seniornya Adeng Djaenuddin, adalah tenaga andalan yang "mengindahkan" Stand Pameran hingga lembur bermalam- malam. Jika ada kegiatan pengujian, almarhum Tatang selalu siap membuatkan aneka merk papan plot dengan berbagai ukurannya. Pendek kata, almarhum Tatang adalah orang baik, humble dan suka bekerja keras serta penuh tanggung jawab. 
   Semoga almarhum Tatang pulang dengan husnul khotimah, diampuni dosa-dosanya, diterima amal shalehnya dan dikuat-sabarkan keluarganya yang ditinggalkan. 
"Allohumagh firlahu, warhamhu wa'afihi wa'fu anhu".
    Dan semoga pula, kepulangannya disambut oleh Robbnya dengan sapaan lembut:  "Yaa ayyatuhan nafsul mutma'innah. Irji'i ila Robbiki rodiyatam mardiyyah. Fadkhuli fi 'ibadi, wadkhuli jannati". (***) 

*] Muarabeliti SUMSEL, 6 Oktober 2026

Senin, 08 Juni 2026

MEMILIH KETUA RT


Catatan: Hendy UP *]

    Baru saja keluar dari rest area Km~294 B tol Pejagan, berderinglah notifikasi WA. Sembari menikmati duet lawas Ebiet~Iwan "Titip Rindu Buat Ayah" pilihan sopirku, aku mulai mencermati tumpukan chat WA yang tertunda di masjid At-Taqwa di kompleks rest area tadi. 
    Rupanya ada beberapa panggilan tak terjawab, berikut kiriman kopifoto undangan pemilihan ketua RT. Kubaca dengan saksama, ah... masih empat hari lagi. Insyaa Alloh aku bisa ikut nyoblos! 
    Lalu,  aku kembali menikmati barisan pohon Tabebuya (Handroanthus chrysotrichus) yang menyemburatkan aneka warna: kuning, ungu, pink dan magenta, berjajar lurus menentara sepanjang kiri~kanan jalan tol Pejagan~ Palimanan. ***
    Tentang pilihan ketua RT, menurut info yang beredar di dunia maya dan tervalidasi oleh mesin Generative Pre-trained Transformer (GPT) bahwa pada Juni 2026 ini bakal ada pemilihan serentak bagi 528 ketua RT di 72 kelurahan dalam wilayah Kota Lubuklinggau SUMSEL. 
     Maka, tibalah Kamis pagi 4 Juni 2026 kemarin. Menjelang mentari naik sepenggalah buluh, aku bersijingkat menuju TPS mini yang berjarak hanya sepelemparan batu dari rumahku. 
     Entah kenapa, setiap ada perhelatan demokrasi baik di level akar rumput maupun di pucuk tinggi batang sialang, sungguh aku selalu sangat bersemangat jiwa. Barangkali mirip suasana hati para santri Gontor dalam memaknai frasa "ar~rohah fi tabadulil a'mal" menjelang libur panjang bulan Sya'ban, walaupun bukan berarti full leha-leha tanpa muroja'ah harian. 
    Atau, mungkin juga ada kaitannya dengan titik 'milestone' jejak hidupku dahulu, ketika pertama kali ikut nyoblos Pemilu Legislatif pada 2 Mei 1977, yang menyisakan pengalaman unik saat diinterogasi oleh Danramil yang berkumis baplang nan menyeramkan. Kala itu, aku terlalu bersemangat menyuarakan gagasan oposisi dari perkotaan yang menentang partai Golkar di kampungku. 
    Yaa, tibalah aku di TPS mini Karangketuan yang mulai ramai. Aku bersalam- salaman, menyerahkan undangan, ngobrol kiri~kanan sembari menunggu panggilan nyoblos. Dari  kursi antrian, kami menyaksikan kesibukan panitia. Ada ketua Sunardi bersama empat anggota yang sesekali nyeruput kopi hangat, melengkapi ritual ngodod nan berasap-masap. Ada pula yang membolak-balikkan tumpukan berkas di atas map heckter berwarna dongker. 
    Tepat pukul 7.30-an acara dimulai. Diawali pidato tentang tata cara nyoblos, nama & nomor urut calon, jumlah KK dan hal-ikhwal aturan pemilihan. Walaupun tidak dijelaskan detail, intinya adalah perihal Peraturan Walikota Lubuklinggau No. 8 Tahun 2018 tentang Tata Cara Pemilihan & Pedoman Penyelenggaraan Ketua RT/RW.
    Di RT kami ternyata ada tiga calon, seorang wanita dan dua lelaki: Desi Widya Astuti, Muhadi dan Bambang BK. Aku bergumam dalam hati, kok banyak juga peminatnya!  Padahal ikhwal ngurusi warga yang heterogen bukanlah hal yang mudah. Memangnya berapa sih gajinya?! 
    Setelah melakukan Chat~GPT, ternyata gaji ketua RT di Lubuklinggau tahun 2026 ini sebesar Rp 1,2 juta per bulan. Sekadar pembanding, gaji ketua RT di DKI Jakarta tahun 2026 kini adalah sebesar Rp 2,5 juta.
    Sesudah pencoblosanku kelar, aku tak langsung pulang. Aku mengamati tetangga yang terus bergantian ke bilik TPS. Agaknya tak ada TIMSES yang sibuk menjemput warga untuk datang ke TPS, seperti tatkala Pileg dua tahun lalu. Aku berpikir bahwa perhelatan demokrasi tingkat RT ini lebih genuin ketimbang acara Pilpres, Pileg dan Pilkada yang kadang nyata-nyata dibayangi tudung oligarki di bawah rimbunnya pohon jengkol. 
    Petangnya, aku mendapat laporan dari Ketua RT bahwa perhitungan akhirnya adalah: Desi Widya Astuti meraup 97 suara, Muhadi 34 suara dan Bambang BK 24 suara. Suara tidak sahnya satu.
    Sungguh aku bersyukur telah mengikuti prosesi demokrasi yang paling azasi: memilih pemimpin secara langsung tanpa intervensi, setulus hati. Semoga ketua RT 03 yang baru kelak, senantiasa amanah dan diberi kekuatan oleh Alloh SWT dalam membangun warganya. Aamiin yaa Robbal'alaamiin. 

*] Muarabeliti SUMSEL, 5 Juni 2026