Kamis, 26 Maret 2020

PENGANTAR BUKU (3)

GUMAM: PENGALAMAN MENULIS DENGAN JARAK

Bagian  III

     "Saya bukan saja tidak menyadari adanya konflik itu. Bahkan tidak menyadari hubungan keduanya. Kalau saya menulis cerita fiksi, itu sajalah yang menjadi fokus. Saya merasa bahwa saya punya hubungan naif yang biasa dengan fantasi, yang dengan itu orang harus memulainya; kemudian saya berjuang dengan kata kerja, kata keadaan, atau koma. Dan saya jarang membayangkan apa jadinya cerita fiksi itu. Tentu saja, saya tidak pernah menulis fiksi sebagai ilustrasi dari gagasan yang ada pada diri saya sebagai penulis esai". Begitu pendapat lugas Novelis Susan Sondag, sebagaimana dikutip Ignas Kleden (1989), ketika mengantarkan "Catatan Pinggir II", karya Goenawan Muhamad.

      Sekali pun Susan itu mungkin benar dan jujur, hal itu tidaklah menafikan keperluan untuk melihat, apakah aku sebagai birokrat sekaligus penulis opini kritik kepada Pemerintah tidak melahirkan "modus vivendi" yang baru? Sebagai birokrat, aku berusaha bekerja sesuai dengan "TUPOKSI". Sepanjang karirku sebagai PNS di berbagai instansi, aku berusaha melaksanakan tugas pokok organisasi sebisa mungkin. Walau itu tidak mudah. Ada "job discription" sebagai panduan per eselon, per jabatan, walau kadang tak selamanya jelas. Sering campur-baur, dan selalu ada klausal Tupoksi yang sulit disangkal: "melaksanakan tugas yang diberikan atasan". Tafsirnya bisa melebar-jembar.

     Mungkin karena profesionalitas birokrasi pemerintahan saat ini masih sebatas ungkapan formal- labial. Entah sampai kapan masanya! Untuk melaksanakan Tupoksi, pada galibnya, pertama-tama diperlukan rujukan aturan: UU, PP, Per-Men, Per-Da, atau apa pun produk hukum yang wajib dibaca, dipahami dan direnungkan. Lantas, menuliskannya dalam proposal kebijakan administratif dan/atau teknis operasional.

     Tentu dengan argumentasi yang sehat dan kredibel. Ada Standar Operasional Prosedur (SOP) hingga Pedum dan Juknis. Birokrat, sesungguhnya senantiasa bekerja dengan huruf, kosa-kata, kalimat, paragraf, kadang retorika, hingga apostrof titik koma atau bahkan tanda tanya. Sebagai birokrat, aku bekerja dengan kosa-kata, kalimat dan paragraf.

     Pun pula sebagai penulis aku bergulat dengan material yang sama, menyusun serial paragraf. Aku kadang ber-aposisi dalam menyusun kalimat agar lebih susastra. Bahkan, sebagai penulis artikel, aku lebih leluasa berinovasi dalam membangun proposal, merumuskan dan menderivasi tema. Dalam menulis artikel, aku lebih bergairah menggali dan mempromosikan: ide baru yang "out of the box", mengungkit kosa kata "bari" yang lokalistik ke level nasional, membuat kosa-kata baru yang terdengar "aneh".

     Misalnya: membeliung, mendedag, melebar-jembar, pekat-lekat, kabur-baur, melejit-gesit, selip-melip dan banyak lagi; yang tidak mungkin ditemukan di KBBI atau KATEGLO Ivan Lanin. Motifku hanya berekreasi sembari berkreasi demi rasa bahasa, taste dan lebih pada "suka-suka gue". Dan itu menghadirkan kegembiraan dalam berkarya. Bukankah evoluasi bahasa apa pun selalu berkelindan dengan derap peradaban baru? Invensi dan inovasi baru? Demi kegembiraan dan kemaslahatan ummat?

     Ketika kesukaanku memunculkan kosa-kata "aneh" yang mengalir dari jiwaku, tiba-tiba aku disokong oleh genius lokal SILAMPARI yang menjulang namanya dengan vitalisme, kapitalisasi kata dan paragrafisasi cerita lokal Silampari. Dan kini telah meloncat jauh dari pusaran lubuk Silampari: ke kampung asing di Pakistan dan terus ke pusat peradaban dunia di Eropa.

      Dan entah akan kemana lagi kelak! Karya-karyanya melejit-gesit, membumbung langit, menapaki gemawan di puncak ionosfir. Bahkan merayap-kayap di belantara flora Nusantara yang berlekuk. Mendesis diam-diam, dan "meracuni" novelis lain yang merasa sudah mapan di zona nyaman.

     Itulah BENNY ARNAS, bujang genuin SILAMPARI yang memprovokasiku untuk segera membukukan arsip tulisanku ini. Padahal, karyaku ini tak lebih dari: GAGASAN LIAR-LIUR YANG MAHANGAWUR. Bukan apa-apa! [***]

Muarabeliti, 1 Desember 2019

PENGANTAR BUKU (2)

GUMAM: PENGALAMAN MENULIS DENGAN JARAK

Bagian  II

      Kebiasaan menulis dan membaca: mana yang lebih awal? Bagiku, berawal dari membaca. Setidaknya itu pengalamanku. Orang lain boleh beda pendapat. Tapi kini, setelah menulis menjadi hobi, membaca adalah ikhtiar pengayaan tulisan, pelacakan referensial, pemutahiran isu, data dan informasi, agar tak ketinggalan pokok bahasan. Kini, prosesnya menjadi paralel-serial. Menulis sembari membaca. Atau sebaliknya.

     Arkian, samar lamat-lamat, nun jauh di masa kecil, aku terbiasa menyaksikan ayahku membaca. Sambil menunggu ibu bertanak, Ayah mengaisku dengan kain di pinggang kiri, menyuapi mulutku dengan nasi atau ubi bakar; atau menggendongku di petang hari, ayahku senantiasa membaca. Membaca dan membaca! Entah apa yang dibaca, aku tak mungkin ingat!

     Di tahun 60-an, saat aku masih Balita, hidup di kampung, entah buku apa yang Ayah baca. Yang masih kuingat, jika ada momen penting, ayahku menulis di belakang pintu kamar: tanggal lahirku dan kakakku ada di sana. Menjual sapi ada di sana. Merehabilitasi rumah ada di sana. Pendeknya semua event yang dianggap monumental!

   Atau di blandongan belakang. Semacam 'dapur kotor' yang centang-perenang, bertumpuk aneka piranti tani: cangkul, bajak, garu dkk, bersebelahan dengan kandang kerbau-sapi; ayahku menulis dengan arang di dinding gedeg: tanggal lahir sapi atau hari mulai bajak sawah. Dan lain-lain. Dan ingatan itu melekat-pekat dalam pengalaman kecilku.

     Ketika menginjak masa SD-SMP aku mulai meniru, mencatat hal-hal penting di buku bekas, bagian belakang buku atau bekas kalender. Dan kala SPMA, aku mulai rutin mencatat kegiatan harian. Kadang tiap hari, dua hari kemudian, seminggu kemudian atau dirangkum setiap sebulan dan bahkan setiap akhir tahun. Semacam evaluasi diri menjelang menapaki tahun baru.

      Ternyata, kebiasaan itu berlanjut hingga menjadi PNS, baik sebagai staf bawahan maupun ketika aku harus membina banyak orang. Menulis artikel opini di koran, atau di blog/website, atau apa pun namanya, pada hakekatnya adalah menyampaikan pandangan, gagasan atau pemikiran secara personal.

     Ada adagium kuno bahwa menyampaikan gagasan yang (mungkin) benar kepada siapa pun, harus dengan cara yang benar, sopan-beretika dengan menggunakan pilihan diksi-narasi yang santun. Baik ketika berdiskusi langsung (apalagi dengan atasan), maupun ketika beropini di media cetak atau media maya-elektronika.

     Gagasan itu kadang berasal dari potret situasi, deskripsi, atau sebuah obsesi yang harus diraih dan diperjuangkan. Tapi tak jarang artikelku berupa kritik terhadap penguasa. Tentu dengan gaya bahasa santun, menyodorkan fakta baru atau gagasan alternatif atas kebijakan yang kuanggap kurang tepat. Dalam hal mengritik, kadang terasa dilematis. Dan pikiranku harus netral demi menyodorkan kebenaran.  Bahwa kemudian Sang Atasan tak setuju, itu persoalan lain. Yang penting aku sudah memberi "warning" jauh sebelum kondisi yang tak diharapkan nyata terjadi.

     Dulu, ketika aku masih menyandang baju "ESELON", aku paling suka membuat "Telaahan Staf". Dengan instrumen tata naskah ini, aku lebih leluasa mengemukakan argumen teknikalitas, rujukan aturan perundangan, latar belakang gagasan, bahkan tafsir konteks bahasan hingga ke alternatif keputusan bagi Sang Bigbos. Sayang, sependek amatanku, tidak banyak pejabat yang menyukainya. Apa penyebabnya? Wallohu a'lam!

     Melakoni dua pekerjaan yang sama sekali berbeda, barangkali lebih mudah. Tetapi agak sulit, manakala seorang birokrat, sekaligus menjadi pengritik kebijakan pemerintah. Seringkali aku agak gamang untuk menulis hal yang demikian berhimpit. Tapi aku harus tetap tegar demi menyampaikan kebenaran dan alternatif kebijakan.

      Tentu saja ini bukanlah suatu proposisi yang mutlak-absolut. Ada arsir yang samar, putus-putus, seperti yang dialami Susan Sontag yang novelis sekaligus esais dan kritikus sastra. Apa kata Susan? [***]

PENGANTAR BUKU (1)

GUMAM: PENGALAMAN MENULIS DENGAN JARAK

Bagian   I

Oleh: Hendy UP *)

      Pembukuan kumpulan artikel ini muasalnya berawal dari membaca-baca arsip tulisanku yang pernah dimuat di berbagai media cetak, dan sebagiannya telah terbundel sebagai "kliping koran" yang terserak. Ada di lempitan buku-buku, di map plastik agak berdebu-debu, yang bahkan terselip-melip di rak perpustakaan pribadi yang sunyi, horor nan "wingit". Maklum, ruangan perpustakaan itu semacam paviliun, menjorok- terpisah di halaman depan, sekaligus berfungsi sebagai ruang baca; sembari menunggu jika ada pelanggan dan pembeli air minum galonan berteknologi Reverse Osmosis System (RO). Yaa... sebelah luar paviliun itu, yang terhubung pintu besi, berfungsi sebagai ruang niaga untuk menjual air minum RO.

     Di ruang khusus 4 x 6 meter itu, dipajangi rak buku bertingkat lima dari plat besi siku, dan ternyata semakin sulit melacaknya jika ingin membaca ulang. Maklum, bundel kliping koran itu telah berumur. Ada artikelku yg ditulis tahun 1978, 1979 hingga akhir 1980-an, walaupun tak semuanya layak dibukukan. Ketika mulai membangun website dan mencoba menjadi blogger pada tahun 2014 ~ untuk sekadar merawat minat baca, menghalau kejenuhan dan menahan laju kepikunan ~ arsip tulisan itu diketik ulang secara bertahap.

     Di usia yang menua, mengetik berlama-lama sungguh menyiksa punduk pangkal leher, nyeri pegel-begel: otot nadi tulang punggung bagaikan tersegel kumparan kawat begel! Mata mulai cepat mengabur, berkaca-kaca, seakan terhalang bayang fotopsia, mirip penderita ablasio retina. Mula-mula ngetik di laptop ACER pentium yang semakin lemot, kemudian belakangan berganti menggunakan gawai untuk kepraktisan menulis: kapan dan di mana saja!

     Artikelku di koran, sering dimuat di rubrik opini. Tapi sejujurnya, itu hanya semacam gumaman orang kecil. Meminjam istilah Goenawan Muhamad, tak lebih dari sekadar marginalia, seperti beliau menjoloki CATATAN PINGGIR-nya. Marginalia adalah catatan di pinggir halaman buku yang sedang dibaca. Kadang bertinta merah, bertanggal baca, untuk menandai dan mengingatkan kembali pembacanya akan hal-hal penting yang termuat pada halaman itu. Catatan-catatan itu sendiri sebenarnya tak penting, kecuali merujuk kepada teks utama sebagai pokok bahasan.

     Jika diingat ulang, sejak mulai menulis, barangkali hampir mendekati duaratus buah artikel yang pernah diterbitkan berbagai koran, majalah, bulletin pertanian dari 1978 hingga 2019 ini. Ada Cerpen dan Cerbung yang berlatar romansia remaja. Ada tentang teknologi dan sosial pertanian, tentang kritik terhadap kebijakan pembangunan pedesaan; bahkan merambah ke soal sosial-keagamaan dan peradaban.

     Ada juga tulisan tentang seseorang, teman atau tokoh yang aku kagumi. Pendeknya, aku menulis tentang apa saja, yang kuanggap perlu diketahui, dipahami dan direnungkan oleh berbagai kalangan, khususnya tokoh masyarakat dan pejabat Pemerintah Pusat dan Daerah. Ya, semacam ikhtiar menyemai kreator peradaban! Tapi sejujurnya, kalau boleh mengurut prioritas atensi dan ketertarikan bidang, aku lebih nyaman dan 'PD' menulis tentang: sejarah, sastra-kebahasaan, humaniora, sosial pertanian dan pedesaan. Selebihnya, aku menulis tentang sesuatu jika ada rangsangan yang menyembulkan desire dan kuriositas.

     Yaa ..., ide menulis kadang muncul dari hasil membaca buku, koran, twitter, instagram, portal berita, blog sastra atau bahkan celotehan emak-emak di WA Grup. Juga dari restan memori setelah nonton tayangan film-tv, youtube, film pendek atau panjang. Bahkan sering kali berasal dari perjalanan kluyuran ke desa-desa, ngobrol "ngalor-ngidul" dengan sesiapa, atau bahkan pascamenyaksikan lingkungan yang asri, yang jorok centang-perenang nan berantakan!

     Atau hasil mengendus situasi fenomenal tentang sebuah isu yang sedang viral, dibincangkan masyarakat umum, baik di WA-Grup maupun Facebook. Semisal dampak dari: Narkoba, Corona virus, Pileg, Pilkada- Pilkades. Belakangan ada produk demokrasi baru tentang Pilsung Badan Permusyawaratan Desa. Yaa ... semacam lembaga legislatif di tingkat desa. [***]

Rabu, 25 Maret 2020

GESAH BUDAYA

FILM HAYYA: MELEPAS KORTISOL & GUGUS ENDORFIN

Oleh: Hendy UP *)

     Seratusan menit menikmati Film Hayya, aku mengalami tiga hal: ejakulasi batin, permenungan jiwa dan pelepasan endorpin otak yang mangkal pada sirkuit kegembiraan. Aku tak tahu, apakah penonton lain termasuk Benny Arnas yang duduk di depanku meraih pengalaman yang sama? Entahlah! Sepuluh menit pertama, dalam kegelapan gedung Sinemaxx Lippo, penonton disuguhi adegan sedih. Keceriaan gadis kecil Hayya dan puluhan anak Palestin di Pasar Jabalia melambungkan rasa bersalah kita.

     Kegembiraan anak-anak kita di pedesaan Musirawas: dari Muarabeliti  hingga dusun Selangit, adalah kegembiraan otentik-genuin yang tak terbeban kemungkinan tertembus peluru atau desing mesiu di atas ubunnya. Kerekatan gadis kecil Hayya dengan Rahmat selama di barak pengungsian, tiba-tiba harus ditetak jiwanya, karena Rahmat akan kembali ke Indonesia. Hayya kecil memberontak, tak terima.

      Inilah awal kisah yang membuat gadis kecil  Hayya nekad masuk ke koper besar Rahmat, terikut serta berlayar kapal  ke Indonesia. Memang potongan episode yang ini agak melawan rasionalitas penonton.

      Tanpa sadar, ada kilatan bayang fotopsia menghalangi layar lebar. Aku menahan air bening yang menggelayuti kelopak mata, seakan sedang menderita ablasio retina; sejurus kemudian syaraf simpatetik mataku menegang, kemudian melepaskan hormon kortisol. Dan jatuhlah lelehan air kesedihan itu!

     Sebaliknya, ada adegan kocak Adhin, berlari menyungging Hayya ketika menyelamatkannya dari kejaran Polisi. Ada hiruk-pikuk para 'Banci' yang menggelakkan beruyak-tawa. Penonton terpingkal-pingkal histeria! Background kampung kumuh dan "AWAS ANJING GALAK", mampu melupakan sejenak jejak keprihatinan nasib Hayya. Syaraf penonton dipaksa melepas endorfin dan memainkan sirkuit kegembiraan yang meluap-luap.

     Agaknya sutradara Jastis Arimba sangat mumpuni dalam menakar harmonik osilasi jiwa penonton, dan menghitung ujung amplitudonya: titik ekstrim syaraf jiwa-sedih dan titik ekstrim bahak- kegembiraan. Tentu saja, sutradara telah mengalkulasi potensi populasi penontonnya, yakni kaum milenial dan generasi-Z yang kini dominan dalam statistik demografi Indonesia.

     Kejelian sang sutradara Jastis niscaya selaras dengan kepiawaian produser Erik Yusuf bersama Helvy TR di bawah bendera Warna Pictures. Pasti bukan tanpa alasan ketika setting-place yang dipilih adalah Pasar Jabalia, Gaza Palestina dan kota Tasikmalaya Jawa Barat, dengan riak-dialek Priangan Timur yang agak vulgar dan kadang khas mendayu-dayu.

    Sungguh selaras, kompromi pemilihan para bintang yang pas dalam memerankan karakter yang dibangun penovelnya: Helvy dan Benny. Tokoh Rahmat Asyraf Pranaja (Fauzi Baadila) seorang jurnalis sang pendosa yang bersemangat menebus masa lalunya, mampu mengekspresikan kegelisahan dan irrasionalitas tindakannya. Sementara tokoh Hayya Qasim (Amna Hasanah Shahab) dipoles karakternya persis sebagaimana persepsi kita terhadap anak-anak Palestin yang full-traumatik, sarat bully dan nyaris kehilangan masa kanaknya karena direnggut Zionis super-biadab.

       Tokoh penting lain yang menyempurnakan multi adegan itu adalah: Adhin Abdul Hakim sebagai Adhin, sangat berhasil meluruhkan 'pembrontakan' jiwa Rahmat dan mampu menyuguhkan banyolan-intelek dalam kebersamaan peran di pelataran jihadnya. Bintang-bintang berbakat lain yang mendukung keberhasilan HAYYA ini adalah mereka yang terbukti mampu memerankan sekuel The Power of Love 2. Mereka adalah novelis Asma Nadia, Meyda Sefira, Ria Ricis, Humaidi Abas dan Hamas Syahid.

       Betapapun, film HAYYA adalah simbol kebangkitan ghiroh ummat dunia, beragama apa pun, yg masih peduli akan peri kemanusiaan dan peri keadilan demi mendukung eksistensi Bangsa Palestin. Lebih dari itu, bagi "Wong Linggau" novel dan film HAYYA adalah menjulang-tingginya bendera SILAMPARI yang bertajuk #JIHADBUDAYA.

       Yang menjulangkannya adalah seorang sarjana pertanian: BENNY ARNAS. Bukan yang lain! Allohu'alam bishowab.

[Muarabeliti, September 24, 2019] *) Blogger: www.andikatuan.net

Selasa, 24 Maret 2020

NOVEL HAMKA 1938 (2)

MENGENANG ROMAN BARI: TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK (2)

Oleh: Hendy UP *)

      Pada mozaik ke-26 (hal 204), dituturkan bahwa pada 20 Oktober 1936, Zainuddin pulang dari Malang utk tugas jurnalistiknya. Masuk ke rumahnya di sudut gang di Surabaya dengan wajah muram nan murung. Sungguh jiwanya sangat menyesali. Akan tetapi, dendam kesumat cintanya dan arogansi kelelakianya telah mampu membentengi dan meredam getaran sinyal ketulusan jiwa yg sesungguhnya, kepada Hayati.

     Kemarin pagi, di rumah ini, dengan tegas nan ketus setengah mengusir Hayati yg memasrahkan cintanya dengan bahasa yang dalam, dari jiwa yang bertimbun luka nan ringkih terkoyak adat kampungnya; dari kegagalan perkawinannya dengan Azis atas pilihan tradisi lingkungannya, ninik-mamaknya.

     Dan pagi ini, di kamarnya, Zainuddin menerima surat panjang terakhir Hayati, berangkai 20 paragraf, yang dititipkan kepada sahabatnya Muluk. Maka dibacalah dengan perasaan nan gusar lagi bergetar:

      "Pergantungan jiwaku, Zainuddin! Kemana lagi langit tempatku bernaung, setelah engkau hilang dari padaku Zainuddin. Apakah artinya hidup ini bagiku kalau engkau pun telah memupus namaku dari hatimu!

      Sungguh besar sekali harapanku hendak hidup di dekatmu, akan berkhidmat kepadamu dg segenap daya dan upaya, supaya mimpi yg telah engkau rekatkan sekian lamanya bisa makbul. Supaya dpt segala kesalahan yg besar2 yg telah kuperbuat terhadap dirimu saya tebusi.

     Tetapi cita2ku itu tinggal selamanya menjadi cita2, karena engkau sendiri yg menutupkan pintu di hadapanku: saya kau larang masuk, sebab engkau hendak mencurahkan segala dendam kesakitan yg telah sekian lama bersarang dalam hatimu, yg selalu menghambat2 perasaan cinta yang suci.

     Zainuddin! Apakah artinya harta dan perbantuan itu bagiku, kalau bukan dirimu yg ada di dekatku? Saya turutkan permintaan itu, saya akan pulang. Tetapi percayalah Zainuddin bhw saya pulang ke kampungku, hanya dua yg kunantikan. Pertama kedatanganmu kembali, menurut janjiku yg bermula, yaitu akan menunggumu, biar berbilang tahun, biar berganti musim. Dan yg kedua, ialah menunggu maut, biar saya mati dg meratapi keberuntungan yg hanya bergantung di awang2 itu.

       "  .......... "

     Selamat tinggal Zainuddin! Selamat tinggal, wahai orang yg kucintai di dunia ini. Seketika saya meninggalkan rumahmu, hanya namamu yg tetap jadi sebutanku. Dan agaknya kelak, engkaulah yg akan terpatri dlm do'aku, bila saya menghadap Tuhan di akhirat.....

      Mana tahu, umur di dlm tangan Allah! Jika saya mati dahulu, dan masih sempat engkau ziarah ke tanah pusaraku, bacakanlah doa di atasnya, tanamkan di sana daun puding panca warna dari bekas tanganmu sendiri, utk jadi tanda bhw di sanalah terkuburnya seorang perempuan muda, yg hidupnya penuh dg penderitaan dan kedukaan, dan matinya diremuk rindu dan dendam.

       Mengapa suratku ini banyak membicarakan mati? Entahlah Zainuddin, saya sendiri pun heran, seakan2 kematian itu telah dekat datangnya. Kalau kumati dahulu dari padamu, jangan kau berduka hati, melainkan sempurnakanlah permohonan doa kpd Tuhan, moga2 jika banyak benar halangan pertemuan kita di dunia, terlapangkanlah pertemuan kita di akhirat, pertemuan yg tdk akan diakhiri lagi dg maut dan tdk dipisahkan oleh rasam-basi manusia....

       Selamat tinggal Zainuddin! Dan biarlah penutup surat ini kuambil perkataan yg paling enak kuucapkan di mulutku dan agaknya entah dg itu kututup hayatku ~ di samping menyebut kalimat syahadat ~ yaitu: aku cinta akan engkau, dan kalau kumati, adalah kematianku di dalam mengenangkan engkau...."

      Sambutlah salam dari: HAYATI.

*) Muarabeliti, Selasa 24 Maret 2020.

[Sumber: idem Novel HAMKA 1938-1]

NOVEL HAMKA 1938 (1)

MENGENANG ROMAN BARI: TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK 1938.

Oleh: Hendy UP *)

     Adalah karya sastra monumental di tahun 1938 ~ 19thn sebelum aku dilahirkan ~ dari seorang ulama besar HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) di masa belianya. Pertama kali terbit di majalah "Pedoman Masyarakat" yang dipimpin oleh HAMKA sendiri pada tahun 1938. Usia beliau saat itu 31 tahun. Karya monumental lainnya adalah "Di Bawah Lindungan Ka'bah".

     Kemudian diterbitkan dlm bentuk buku roman oleh M. Syarkawi dua kali (1939 & 1949); dan mendapat kritikan keras dari kalangan agamawan karena dianggap menyalahi kebiasaan dan kelaziman adat tradisi kala itu (1938-1948). Penerbitan selanjutnya dikelola oleh PN. Balai Pustaka hingga ke-7. Mulai penerbitan ke-8 (1961) hingga ke-17 diurus oleh Penerbit Nusantara (swasta). Dan cetakan ke-18 (1986) dan seterusnya diterbitkan oleh PT. Bulan Bintang, yang dicetak oleh PT Midas Surya Grafindo, Jakarta dengan ISBN- 979-418-055-6.

      Roman kasih yang terkelindan antara Pemuda malang Zainuddin, 'gadih Minang' Hayati, Azis dan Khadijah dan Muluk itu terserak dalam 28 mozaik kisah, yakni:

1. Anak orang terbuang;
2. Yatim piatu;
3. Menuju negeri nenek moyang;
4. Tanah asal;
5. Cahaya hidup;
6. Berkirim-kiriman surat;
7. Pemandangan di dusun;
8. Berangkat;
9. Di Padangpanjang;
10. Pacu kuda dan pasar malam;
11. Bimbang;
12. Meminang;
13. Pertimbangan;
14. Pengharapan yang putus;
15. Perkawinan;
16. Menempuh hidup;
17. Jiwa pengarang;
18. Surat-surat Hayati kkp Khadijah;
19. Club anak Sumatera;
20. Rumah tangga;
21. Hati Zainuddin;
22. Dekat, tetapi berjauhan;
23. Surat cerai;
24. Air mata penghabisan;
25. Pulang;
26. Surat Hayati yang penghabisan;
27. Sepeninggal Hayati;
28. Penutup.

       Pada mozaik ke-25 "Pulang", dikisahkan begini: "Pagi-pagi hari Senin, 19 hari bulan Oktober 1936 kapal Van der Wijck yang menjalani ijin KPM dari Mengkasar telah berlabuh di Pelabuhan Tanjungperak. Kapal itu akan menuju Semarang, Tanjungpriuk dan terus ke Palembang. Penumpang-penumpang yg akan meneruskan pelayaran ke Padang harus pindah kapal di Pelabuhan Tanjungpriuk".

     Dan Hayati akan menaiki kapal itu, niatnya berlayar pulang ke Padang. Ternyata, qodarullah, di tengah laut Jawa 35 mil di barat Surabaya, Hayati menjemput ajalnya; setelah cintanya yang tulus ditolak dengan kejam-setikam oleh Zainuddin, karena dendam lelaki yang beralasan.

      Padahal, merongga di lubuk hati Zainuddin, sungguh hanya mencintai Hayati sepanjang hayatnya. Tetapi, gumpalan dendam cinta itu bergelulung berbuntal-buntal mengebat jantungnya, melingkari nuraninya. Dan diusirlah Hayati dengan sepedih hati. Sungguh kelak, sebuah penyesalan yg tak pernah dibayangkan akan membawa ajal kekasih satu-satunya sepanjang hidupnya.

      Pascaditolak cintanya, Hayati menorehkan seluruh cinta-jiwanya dalam berlembar-lembar kertas, yang ditinggalkan di ruang-tulis Zainuddin. Itulah lelehan jiwa Hayati yang menularkan virus kematian utk lelaki idamannya: Zainuddin ahli waris budaya dari Negeri Batipuh X Koto wilayah Padangpanjang.

[Bersambung ke Novel HAMKA (2)]

*) Muarabeliti, Senin 23 Maret 2020.

[Ditukil dari Roman Bari "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck", Penerbit Bulan Bintang, Jkt; Cet ke-18, 1986, 224 hal: 21 cm].

Senin, 23 Maret 2020

SASTRA NUSANTARA (1)

KAKAWIN HARIWANGSA
GUBAHAN: MPU PANULUH

Hana desa lengong leyep langonya/
Ri Yawadwipa kasankhya nusa sasri/ Palupuy Hyang Agastya tan hanoli/
Ya tika trasa hilang halepnya mangke//

Umuwah ta sira ng watek hyang aswi/ Anuduh te ri bhatara padmanabha/
Ya tika pulihen langonya raksan/
Ri sira, hyang hari tan wihang lumampah//

Irikan dadi bhupati prasiddha/ Maripurnnaken ikang prajatisobha/ Subhaga n madhusudanawatara/
Sira ta sri jaya-satru kaprakasa//

Tuwi sang Hyang Agastya yatna sighra/ Atemah bhiksuka pandhitadhikara/ Guru de haji manggehing pangajyan/ Sira teka pinatihnikang sarajya//

Apageh pangadeg haji n haneng rat/ Samusuh sri naranatha kapwa bakti/ Anubhawa munindra karananya/ Kawidagdhanira ring bhayatisuksma//

Nda tan adwa muwah kretanikang rat/ Pada yatneng yasa-dana-dharmma-sastra/
Wwang angasraya mula-hina-dina/ Dumadak wreddhi sukanya ring samangka//

Ya ta kaprihati manah nararyya/
Ri masantananing artha tulya warsa/ Awaneh naranatha ring bhinukti/ Lilalila ta sira hyun ing kalangwan//.

(Ada sebuah negeri yg indah/ Keindahannya laksana di dlm impian, disebut Pulau Jawa, sebuah pulau yg megah/ Jawa adalah kitab dari Agastya yg sakti tiada bandingan/ pulau itu sekarang dihinggapi ketakutan, sehingga keindahannya lenyap//

Kemudian berkumpul dewa-dewa bersama Hyang Aswi/ bersama-sama memohon dg sangat kepada Bhatara Padmanabha/ untuk memperbaiki dan menjaga keindahan pulau tersebut/ Dewa Hari ikut serta pergi ke sana//

Kini Dia telah benar-benar menjadi raja/ yang menyempurnakan lagi kehidupan hamba sahayanya/ Dia adalah inkarnasi dari Madhusudana-awatara/ Dia termashur dengan nama Sri Jaya-satru (Jayabhaya)//.

Menurut Prof. Dr. Poerbatjaraka dlm "Agastya in de Archipel" ada hubungan antara Jayabhaya (titisan Wisynu) dg gurunya (titisan Agastya), yang terkait-hubung dg Tokoh Syaikh Syamsuddin al-Wasil (penyebar Islam di pedalaman Kediri) dg Sri Mapanji Jayabhaya.

*) Muarabeliti, Ahad 22 Maret 2020.

[Ditukil dari Buku ATLAS WALISONGO, Karya Agus Sunyoto, Penerbit Pustaka Iiman, Trans Pustaka & LTN PBNU, Cetakan ke-1, 2012. Hal 59-60 [406 hal].

Sabtu, 14 Maret 2020

SEJARAH KOLONIAL BELANDA (3)

SERIAL SEJARAH PENJAJAHAN BELANDA ERA 1602-1709 (3)

Oleh: Hendy UP *)

      Dari pengalaman beberapa kali pelayaran, ternyata semakin hari persaingan antarpesero semakin ketat dan cenderung kotor; apatah lagi mulai terjadi "kong-kalingkong" antara pengusaha dan penguasa. Di sisi lain, sistem administrasi dan manajemen yg terpusat di Nederland terlalu jauh daya kontrolnya. Maka, pada 1 September 1609 "de Heeren-17" utk pertama kalinya memutuskan perlunya pengangkatan seorang Gouverneur Generaal (GG) sebagai pimpinan tertinggi yg ditunjuk sbg "primus interpares"-nya, dg suatu "raad van Indie". Bahwa "genen admiraal ofte vys admiraal te stellen (over de uit te zeilen vloot)..... Oost Indien zynde" (bhw tdk akan diangkat admiraal atau vice-admiraal pada iringan kapal yg akan berlayar, kecuali sebagai penggantinya seorang GG; baik utk iringan kapal itu maupun utk comptoiren dan pertyen). Pejabat GG diangkat utk masa 4 atau 5 tahun dan harus tinggal di Hindia Belanda (Nusantara).

     Hal ini demi sentralisasi manajemen, berhubung meningkatnya volume perdagangan dan tuntutan besarnya pemasukan uang bagi negara (dan penguasa). Dinamika politik internal & eksternal di Nederland mendorong perlunya pengawasan oleh semua elemen masya. Dan salah satu tokoh, yakni Pieter Both diajukan ke Staten Generaal (Perlemen) utk pengesahannya pada rapat 27 November 1609. Pengangkatan GG Pieter Both mengemban mandat atas seluruh benteng, kantor2, tempat2 (pelabuhan dll), dan orang2 negotie dari VOC. Dlm plakat Staten Generaal tgl 27 Nov 1609, terhdp gubernur pertama itu sebagai "Onze Goeverneur Generaal, onzegebeid aldaar, en de plaatsen die wij en de onzen in de Oost Indiens houden en bezitten" (GG kita di wilayah kita di sana, dan tempat2 yg kita pegang dan kita punya di Hindia Timur).

      Real tugas di Nusantara, setelah persiapan dan perjalanan pelayaran, GG Pieter Both praktis dimulai pada awal 1610. Tugas pertama yg diemban GG Pieter Both (Pasal 1 Raad van Indie) adalah membentuk suatu badan atau college pemerintahan mengenai segala tindakan dan urusan Kompeni di Hindia Belanda (Nusantara) yg disebut "Raad van Indie" terdiri 5 org: GG dan 2 org lainnya; dan 3 org ini memilih 2 org lagi dg suara terbanyak.

     Sebagai GG perintis, Pieter Both dipandang berhasil dlm membangun fondasi bisnis VOC dan menjalin kontrak2 dg para Sultan; termasuk para GG setelah Pieter Both. Saham2 VOC terus meningkat: Thn 1622 mencapai koers 300%; thn 1726 = 1.260%; thn 1672 = 250%; hingga pertengahan abad ke-18 = 750%; dan menjelang kebangkrutannya pada 1781 masih tersisa 215%. Dan pada 31 Des 1799, secara de facto dan de jure VOC dinyatakan pailit (bangkrut). Pada awalnya, 42 pasal yg mengatur tugas, hak dan kewajiban GG dan Raad sangatlah longgar dan tdk mengikat dan lebih bersifat nasihat, kecuali bidang peradilan.

     Pasal 8 berbunyi: "Aangaande hoe gij U in alle andere zaken (behalve de justie) de regering, commercie, trafique, mitsgaders de allianten met de Koningen en Potentanten van Indien betreffende, zult hebben te gedragen, daarop kunnen wij U geen vaste orde stellen, maar alleen raadgeven, instrueren, of ookeensdeels ordonnantie als volgt". (Ttg bgmn Tuan harus melakukan hal2 lain [kecuali yustisi], ttg pemerintahan, perdagangan, perhubungan, aliansi dg para raja/sultan yg berkuasa, kami tdk dpt memberi perintah yg tetap, kecuali memberi nasihat dan pedoman atau juga sebagian mengatur sebagai berikut).

     Produk hukum lainnya dari GG adalah berupa instruksi2 yg mengatur hak & kewajiban GG dan Raad (42 pasal) dlm kaitan dg pemerintahan Kompeni di Hindia Belanda antara lain: instruksi 14 (27) Nov 1609; 11 Mei 1613; 22 Agustus 1617; 17 Maret 1632 dan yg terpenting (monumental) adalah instruksi 26 April 1650. Luasnya kewenangan GG (dan Raad-nya), tidak hanya soal perdagangan di pelabuhan tetapi juga dlm hal bernegosiasi dengan para Sultan di luar Banten. Bahkan mulai "menyebarkan" para predikant (pendeta) dan guru2 ke berbagai pelosok daerah.

*) Muarabeliti, 9 Maret 2020

    

Senin, 09 Maret 2020

SEJARAH KOLONIAL BELANDA (2)

SERIAL SEJARAH PENJAJAHAN BELANDA ERA 1595-1602 (2)

Oleh: Hendy UP *)

      Kendati lawatan Tim Ekspedisi perdana ke Nusantao (Nusantara) yg dipimpin Cornelis de Houtman meninggalkan dukacita mendalam bagi Belanda (163 tewas dari 250 [249?] org awak), tetapi jalan ke negeri pusat rempah2 di Timur Jauh telah terbuka. Ketakutan akan "gangguan" Spanyol dan Portugis baik di perjalanan pelayaran dan di negeri2 yg telah lebih dahulu dijelajahi oleh kedua kerajaan musuh itu, mulai berkurang.

    Pada awalnya, Pemerintah Nederland seakan tidak menyokong penuh upaya pengamanan Tim Ekspedisi ini, misalnya mempersenjatai awak kapal dg ijin khusus. Bahkan Pemerintah melarang upaya kekerasan di perjalanan, kecuali diserang lebih dulu oleh perompak bajak laut atau siapa pun. Namun kemudian, setelah beberapa kali mengadakan pelayaran, asas tersebut tidak berlaku.

      Dengan kepiawaian para direktur perseroan yang dimotori oleh pemilik NV. Oude Compagnie, disepakatilah untuk melanjutkan pelayaran ke Banten (dan kemudian Ambon) sebagai pusat rempah2. Ke-9 poorters itu sebagai "bewind hebbers"  (bewind = pemerintah, hebbers = pemilik) adalah: Gerryt Bicker, Dirk van Oos, Vincent van Bronckhorst, Symon Jansz Fortuyn, Geurt Dirxs, Cornelis van Campen, Jacob Thomasz van den Dael, Elbert Simonzs Jonckheyn, dan Jan Hermansz.

      Antara tahun 1597-1598 mereka berpatungan utk berinvestasi sebesar £.768.466 utk membangun 8 kapal dan sarana lainnya serta modal awal utk pelayaran yang kedua. Pada 1 Jan 1598, berangkatlah Tim Dagang kedua menuju Banten via Madagaskar, Cornelis de Houtman sbg penunjuk jalan. Tiba di Banten pada 28 November 1598. Namun dlm perjalanan pulang, di perairan Aceh, terjadi perlawanan sengit dengan pejuang Aceh. Terjadi "duel" di atas kapal Belanda antara Cornelis de Houtman dg Malahayati; dan Cornelis terbunuh dengan sebilah rencong pada 11 September 1599. Peristiwa tersebut dikenang sebagai "Inong Balee".

     Dari pengalaman kekacauan dan keributan pada ekspedisi pertama, kehadiran Tim di Banten lebih sopan dan kurang menunjukkan sikap keangkuhan. Di samping itu, Tim juga telah (berkolaborasi dg penguasa Nederland) dibekali "artiel-brief" dari Maurits sebagai Admiral Generaal, yakni berisi instruksi2 bagi pimpinan dan awak kapal (scheepsoverheden en scheepsvolk), syarat2 utk masuk kerja dan modal2 yg biasa dibawakan oleh Geoctrooide Oost-Indische Compagnie. Penerbitan article-brief itu sesungguhnya telah dikeluarkan 16 Januari 1595, sebelum berangkatan Tim Perdana, namun waktu itu belum dianggap penting.

       Sebagai "stadhoudher" (anggt Compagnie), masing2 pimpinan persero, juga dibawakan "surat syafa'at" (brieven van voorspraak) utk para Raja dan Sultan di Nusantara. Akan tetapi, karena masing2 persero berlomba mencari keuntungan sebesar2nya, maka persaingan antar stadhouder tak bisa dielakkan. Harga rempah2 di Nusantara semakin mahal bersaing, dan tentu tidak baik bagi persero & pemasukan negara Belanda.

     Kembali ke soal persaingan antar-perusahaan dagang, dari 9 poorters sebagai "bewind hebbers" yg awalnya ikut bergabung dlm "Compagnie van Verre", ternyata yg paling sukses adalah NV (Naamloze Vennotschap) Oude Compagnie. Dan demi kepentingan negara, dengan susah payah akhirnya "Staten-Generaal"  pada 20 Maret 1602 menerbitkan "oktroi monopoli" kepada "de Generale Nederlandsche Geooctrooiijeerde Oost Indische Compagnie" (GOIC, kemudian menjadi VOC).  Dan kelak, oktroi itu diperpanjang 12 kali hingga menjelang bangkrutnya VOC (31 Des 1799), yakni pada tahun: 1623 - 1647 -1673 - 1700 - 1741 - 1742 - 1743 - 1755 - 1777 - 1796 - 1798.

      Para direktur perseroan (9 bewind hebbers) masing2 duduk di kamar2 (kantor) besar dan kecil yg dikenal "de Heeren-17"; yakni 8 org dari Kamar Amsterdam, 4 org dari Zeeland (Middelberg), 1 org dari Rotterdam, 1 org dari Delf, 1 org dari Enkhuizen dan 1 org dari Hoorn atau kamar kecil lainnya.

*) Muarabeliti, 7 Maret 2020
   

[Sumber: idem Serial-1]

Rabu, 04 Maret 2020

SEJARAH KOLONIAL BELANDA (1)

SERIAL SEJARAH PENJAJAHAN BELANDA ERA 1595- 1602 (1)

Oleh: Hendy UP *)

    
     Dihimpit oleh kesulitan ekonomi akibat permusuhan dan peperangan dengan Kerajaan Katholik Spanyol dan Kerajaan Katholik Portugis di akhir abad 15, muncullah inisiatif para saudagar (poorters en de koopluijden) di negeri Belanda utk mengambil terobosan niaga dengan cara mempelajari asal-usul komoditas primadona masy Eropa, yakni rempah2, kopi dll. Mereka bertekad kuat utk membeli langsung dari negara produsen di Nusantao/Nusantara. Karena keterbatasan pengetahuan geografi kala itu, mereka menganggapnya sebagai negeri Hindia di Timur Jauh. Mereka tahu bhw Portugis telah lebih dulu memiliki jaringan niaga rempah2 ke Timur Jauh itu.

    Pada 1592, diutuslah 2 orang pelayar, yakni Cornelis de Houtman ke Lisboa untuk mencari informasi ttg rempah2 (penyamar), dan Jan Huygen van Linschoten ke India utk mencari informasi lapangan ttg rempah2, karena menduga bhw India adalah produsen rempah2. Hasil pelacakan kedua utusan itu disimpulkan bhw Banten di Timur Jauh adalah negeri penghasil rempah2 yg sesungguhnya.

     Pada tahun 1594, para saudagar (9 org) Belanda mulai mendirikan "Compagnie van Verre" (perusahaan jarak jauh); dan pada 2 April 1595 berangkatlah rombongan dari Texel (Nederland) dengan 3 kapal dan 1 jacht dengan 250 awaknya, dipimpin oleh Cornelis de Houtman (lahir di Gauda, Holland, 2 April 1565) dengan tujuan Banten. Karena minimnya pengalaman berlayar, maka jalur yg dipilih adalah mengitari pantai barat- selatan Afrika, melewati Madagaskar, menyelusuri pantai India dan Srilangka.

     Terbatasnya logistik dan minimnya pengalaman, tak ayal terjadi "keributan" di atas kapal bahkan saling bunuh. Di Madagaskar mulanya hendak beristirahat sementara, tapi menjadi lama (lk 6 bln) dan terjadi pembunuhan antarawak kapal hingga ada monument "kuburan Belanda" di Madagaskar.

      Pada 5 Juni 1596 (lk.14 bulan) rombongan itu sampai di pulau Enggano (sebelah barat wilayah Bengkulu). Lalu meneruskan pelayaran ke Teluk Banten dan tiba pada 23 (atau 27?) Juni 1596. Kala itu Sultan Banten sdh menjalin hub dagang dg Portugis yg juga sebagian saudagarnya menetap di Banten. Sebagaimana layaknya pedagang, selama di Banten mencari komoditas rempah dan hasil bumi lainnya, mempelajari sosio-kultur pribumi, berkomunikasi secara terbatas (beda bahasa), serta mulai menjalin kemitraan dagang dengan Sultan Banten dan sekitarnya.

     Akan tetapi, karena perilaku dan tabiat orang2 Belanda itu kasar dan tdk ramah, maka terjadi perselisihan dan keributan dengan pribumi. Hal ini dimanfaatkan saudagar Portugis yg berkolaborasi dg Sultan Banten utk mengusir Belanda. Belanda hengkang, pergi ke pesisir utara Jawa dan tiba di Madura. Terjadi pula keributan dg pribumi dan memakan korban di kedua pihak, bahkan salah satu kapal Belanda dirampas utk kemudian membayar denda. Lalu pergi ke Bali, dan lagi2 terjadi perlawanan sengit pada 26 Februari 1597. Lalu singgah di Pulau Bawean di laut Jawa karena ada kerusakan sebuah kapalnya hingga akhirnya dibakar sendiri oleh Belanda pada 1597.

      Setelah dirasa cukup mendapatkan rempah2, maka pulanglah ke negerinya dengan sisa 3 kapal dan 87 awak yg selamat dan 163 tewas. Dengan susah payah, akhirnya rombongan tiba di Texel Nederland pada 14 Agustus 1597; dan disambut meriah seakan sbg pahlawan yg pulang dari medan juang.

(Bersambung ke: SEJARAH KOLONIAL BELANDA-2).

*) Muarabeliti, 4 Maret 2020.

[Ditukil dari berbagai sumber: Portal Sejarah; Wikipedia; Api Sejarah (AM Suryanegara, 2015); Sejarah Pemerintahan Daerah (Irawan Soejito, 1976); Ichtisar Perkembangan Otoda 1903-1958 (Amrah Muslimin, LAN, 1960); Susunan Neg Kita 1903-1954 (Prof. Soenarko, 1955); Atlas Walisongo (Agus Sunyoto, 2016); Negara Paripurna (Yudi Latif, 2011)].

Senin, 02 Maret 2020

SEJARAH PERANG DINGIN

PERANG DINGIN & GERAKAN NON-BLOK (1947-1980-1991)

Oleh: Hendy UP *)

     Istilah Perang Dingin (PDi) yang dlm bhs Rusia disebut "kholodnaya voyna" dipopulerkan pertama kali pada 1947 oleh Bernard Baruch & Walter Lippman; untuk menggambarkan ketegangan diplomatik dan militer antara AS (dan Inggris) dg sekutunya (Blok Barat/NATO) versus Uni Soviet (US) dg aliansinya (Blok Timur/Fakta Warsawa). Padahal, AS & US beserta Inggris adalah sekutu utama dalam menghadapi musuh bersama yakni German-Nazi, Italia dan Jepang pada Perang Dunia II 1939-1945.

     Muasal PDi itu adalah perbedaan dalil "politik-ideologis" terutama antara AS dan US utk membangun "dunia baru" khususnya di kawasan Eropa pasca-PD II. Di sisi lain, sejak 1943 - 1960 terjadi gelombang demokrasi kedua (Samuel Huntington) dan melahirkan gerakan Dekolonisasi/Antikolonial yg merebak di kws Asia, Afrika dan Amerika Latin; kemudian melahirkan konsepsi baru ttg "self-determination" (kebebasan utk merdeka).

     Dampak PDi selama 33 tahunan itu sungguh luar biasa; menimbulkan persaingan sengit di kedua blok, terutama bidang: koalisi militer, ideologi, psikologi, telik sandi, industri militer, teknologi nuklir dan sektor ikutannya. Ketika AS membangun "benteng" pertahanan thd komunis yg dianut US sbg negara komunis pertama di dunia, berdampak thd terbentuknya "koalisi dan aliansi", dan menimbulkan perang regional antarnegara serta invasi di berbagai kawasan.

      Perang Korea, perang Vietnam, invasi US thd Hungaria dan Cekoslovakia; munculnya kediktatoran Yunani dan negara2 di Amerika Selatan, krisis Rudal Kuba dan krisis Timur Tengah, pecahnya negara German dengan tembok Berlinnya, adalah dampak turunan atas merebaknya PDi di berbagai kawasan.

     Secara de facto, PDi mulai berakhir pada 1980-an ketika pemimpin US Mikhail Gorbachev meluncurkan program reformasi, perestroika dan glasnot; dan sejak itulah secara konstan US kehilangan kekuatannya terhadap Eropa Timur hingga akhirnya US bubar-blas pada 1991 dan kembali menjadi negara Russia dengan risiko hilangnya sebagian wilayah yang mayoritas dihuni ummat Muslimin.

     Dihimpit oleh kait-kelindan PDi, Indonesia yang baru saja merdeka, berada pada posisi yang sungguh sulit secara politis-ideologis. Menurut Yudi Latif (2011), PDi membawa "konflik sistem" yang frontal antara sistem pasar yg berorientasi kesejahteraan model demokrasi liberal di satu sisi, dengan sistem ekonomi komando yg berasal dari teori Marxis di Eropa Barat berikut dampak buruknya akibat "laissez-faire".

      Untunglah Tuhan mengirimkan Bung Karno & Bung Hatta dari langit sebagai "National-Heroes" ke Bumi Nusantara. Berkat kepiawaiannya, Bung Karno mampu "berduel" secara politik tingkat tinggi dengan kedua pemimpin Blok ((AS & US). Lalu terinspirasi oleh pidato Nehru di Colombo (1954), Bung Karno menyusun konsep besar Gerakan Non-Blok yg kemudian menjelma menjadi KTT Asia-Afrika di Bandung pada 18 April 1955.

      Pemimpin Dunia dari Kawasan Asia- Afrika (dan Eropa) yang menggagas Gerakan Non-Blok itu adalah: (1) Bung Karno/Indonesia, (2) Pandit Jawaharlal Nehru/India, (3) Josep Broz Tito/Yugoslavia, (4) Gammal Abdul Nasser/Mesir, dan (5) Kwame Nkrumah/Ghanna Afrika. Bagi Indonesia, KTT-AA dan gerakan Non-Blok ini melahirkan politik luar negeri "bebas-aktif" yg meramu-padukan "political-idealism" dan "political-realism" dlm kancah internationalism. Dengan kata lain, posisi Indonesia utk memperjuangkan koeksistensi damai dlm selimut PDi, bagaikan "MENDAYUNG DI ANTARA DUA KARANG".

     Istilah sastrawi ini diungkapkan oleh Hatta di Yogyakarta pada 1948 di hadapan Badan Pekerja Komite Nasional Pusat. Padahal, metafora dan gagasan Hatta yang cerdas nan bijak ini, juga sedang menyindir suasana konflik internal antarkelompok elite partai sebagai luberan konflik internasional pasca-Linggarjati dan  Renville. Allohua'lam!

*) Muarabeliti, 2 Maret 2020

[Ditukil dari berbagai sumber, utamanya buku "NEGARA PARIPURNA: HISTORISITAS, RASIONALITAS DAN AKTUALITAS PANCASILA", Yudi Latif, PT. Gramedia, Jkt, 2011. Cet ke-1, 667 hal].

Jumat, 28 Februari 2020

SEJARAH GUBERNUR JENDERAL BELANDA

GUB. JENDERAL BELANDA & INGGRIS DI INDONESIA

Oleh: Hendy UP *)

     Ketika Belanda pertama kali datang di Banten pada 23 Juni 1596 hingga 1609, kedudukannya murni berdagang dengan para Sultan di Nusantara. Dengan desakan akan perlunya sentralisasi administrasi, maka diangkatlah utk pertama kalinya GG dengan suatu Raad van Indie 1609.

A. PARA GOUVERNEUR GENERAAL BELANDA:

1. Pieter Both (1610-1614);
2. Cerrit Reynst (1614-1615);
3. Laurens Rezal (1615-1619);
4. Jan Pietersz Coen (1619-1623);
5. Pieter Carpentier (1623-1627);
6. Jan Pietersz Coen (1627-1629);
7. Jacques Specx (1629-1632);
8. Hendrik Brouwer (1632-1636);
9. Antonie van Diemen (1636-1645);
10. Cornelis van der Lyn (1645-1650); 11. Carel Reiniersz (1650-1653);
12. Mr. Joan Maetsuyker (1653-1678); 13. Ryklof van Coen (1678-1681);
14. Cornelis J. Speelman (1681-1684); 15. Johannes Camphuys (1684-1691); 16. Willem van Outhoorn (1691-1704); 17. Joan van Hoorn (1704-1709);
18. Abraham van Riebeeck (1709-1713); 19. Christoffel van Swol (1713-1718); 20. Hendrik Zwaardecroon (1718-1725); 21. Mattheus De Haan (1725-1729);
22. Mr. Diederik Durven (1729-1732); 23. Dirk van Cloon (1732-1735);
24. Abraham Patras (1735-1737);
25. Adriaan Valekenier (1737-1741);
26. Johannes Thedens (1741-1743);
27. Gustaaf WB van Imhoff (1743-1750);
28. Jacob Mossel (1750-1761);
29. Petrus A. van der Parra (1761-1775);
30. Jeremis van Riemsdyk (1775-1777); 31. Reinier De Klerk (1777-1780);
32. Mr. Willem Arnold Alting (1780-1796);
33. Mr. Pieter G. van Ov. (1796-1801); 34. Johannes Sieberg (1801-1804);
35. Albertus Hen Ricus W (1804-1808); 36. Mr. Herman W. Daendels (1808-1811);
37. Jan Willem Janssen (1811-1811);

B. PARA PETINGGI INGGRIS (SEMENTARA: 1811-1816)

1. Lord Minto (1811).
2. Thomas Stamfort Raffles (Luitenant Gouverneur: 1811-1816).
3. John Fendall (Luitenant Gouverneur: 1816).

C. GG BELANDA KEMBALI

38. Godert Alexander Gerard Philip Baron van der Capellen (1819-1826); 39. Hendrik Merkus De Kock, Luitntenan Gouverneur Generaal, (1826-1830);
40. Johannes G. van Den Bosch (1830-1833);
41. Joan Chretian Baud (1833-1836);
42. Dominique J. De Eerens (1836-1840);
43. Carel Sirardus Willem Graaf van Hogendorp, waarnemed (1840-1841): 44. Mr. Pieter Merkus, waarnemend (wd) (1841-1843);
45. Mr. Pieter Merkus, wd (1843-1844); 46. Jhr. Joan Cornelis Reynst (1844-1845);
47. Jan Jacob Rochussen (1845-1851); 48. Mr. George Isaac Bruce (wafat di Bld sebelum berangkat ke Nusantara); 49. Mr. Albertus Jacob Duymaer van Twist (1851-1856);
50. Charles Ferdinand Pahud (1856-1861);
51. Mr. Ary Frins, wd (1861);
52. Mr. Ludolf Anne Jan Wilt Baron Slect van Der Beele (1861-1866);
53. Mr. Ary Prins, wd (1866);
54. Mr. Pieter Myer (1866);
55. Mr. James Loudon (1872-1875);
56. Mr. Johan Willem van Lansberg (1875-1881);
57. Frederik S'Jacob (1881-1884);
58. Otto van Rees (1884-1888);
59. Mr. Cornelis Pynacker Hordyk (1888-1893);
60. Jhr. Karel Herman Aart van Der Wyck (1893-1899);
61. Willem Rooseboom (1899-1904);
62. Joannes Benedictus van Heutsz (1904-1909);
63. Alexander Willem Frederik Idenburg (1909-1916);
64. Mr. Johan Paul Graaf van Linburg Stirum (1916-1921);
65. Mr. Dirk Foek (1921-1926);
66. Mr. Andries Cornelis Dirk de Graaff (1926-1931);
67. Mr. Boninfacius Cornelis de Jonge (1931-1936);
68. Jonkheer Tjarda van Starkenborgh Stashouwer (1936-1942).

D. PARA KOMISARIS GENERAAL

1. Henrik Adriaan van Reede tot Drakenstein (1684-1692);
2. Mr. Sebastiaan Cornelis Nederburgh (1791);
3. Simon Hendrik Frykenis (1791);
4. Mr. Willem Arnold Alting (1791);
5. Johanes Siberg (1793);
6. Mr. Pieter G. van Overstraten (1796); 7. Mr. C. Th. Elout (1805-1806);
8. C.H. van Grasveld (1805-1806);
9. Mr. Cornelis Theodorus Elout (1816-1819);
10. Godert Alexander Gerard Philip Baron van Der Capellen (1816-1819); 11. Arnold Adriaan Buyskes (1816-1819);
12. Leonard Pieter Josef Burggraaf Du Bus de Gisignies (1826);
13. Johannes Graaf van Den Bosch (1833).

*)Muarabeliti, 27 Februari 2020.

[Ditukil dari buku "SEJARAH PEMERINTAHAN DAERAH DI INDONESIA", Karya Irawan Soejito, Pradnya Paramita, Jakarta, 1976].

Kamis, 20 Februari 2020

TOKOH REPUBLIK (2)

BUNG KARNO & HARI-HARI BERSEJARAH DI AWAL NKRI (2-HABIS)

Oleh: Hendy UP *)

● 27 November 1949:
Penyelenggaraan Konferensi Medja Bundar (KMB) di Den Haag Belanda. Bung Hatta bertindak mewakili RI dan menandatangani dokumen perjanjian KMB.

● 17 Desember 1949:
Bung Karno dipindahkan ke Djakarta.

● 28 Desember 1949:
Kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.

● 17 Oktober 1952:
Meriam tentara diarahkan ke Istana Negara yang dikenal dengan "Peristiwa 17 Oktober".

● 7 Juli 1953:
Bung Karno menikah (ke-3) dengan Ny. Hartini.

● 18 April 1955:
Penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika dibuka Bung Karno di Bandung.

● Juli 1955:
Bung Karno menunaikan ibadah haji.

● 29 September 1955:
Pemilu I untuk memilih anggt. DPR.

● 15 Desember 1955:
Pemilu II untuk memilih anggt. Konstituante.

● 10 November 1956:
Pembukaan Sidang Konstituante di Bandung.

● 1 Desember 1956:
Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan Wapres.

● 21 Februari 1957:
Konsepsi Presiden diumumkan Bung Karno di Istana Negara.

● 1957:
Percobaan pembunuhan kepada Bung Karno yang dikenal "Peristiwa Tjikini".

● 14 September 1957:
Pernyataan bersama Bung Karno dan Bung Hatta.

● 15 Februari 1958:
Pemberontakan PRRI/PERMESTA meletus.

● 5 Juli 1959:
Dekrit Presiden tentang Pembubaran Konstituante dan kembali ke UUD 1945.

● 17 Agustus 1959:
Manifesto Politik (Manipol) RI dinyatakan sebagai Garis-Garis Besar Haluan Negara.

● 1960:
Percobaan pembunuhan kpd Bung Karno dengan serangan roket ke Istana Negara.

● 30 September 1960:
Pidato Bung Karno di Sidang Umum PBB yang berjudul "To Build The World a New" dan mendapat sambutan luas.

● 1961:
Percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno dg pistol ketika melaksanakan ibadah shalat Idul Adha di halaman Istana Merdeka.

● 19 Desember 1961:
Tri Komando Rakyat (Trikora) diumumkan di Yogyakarta.

● 3 Maret 1962:
Bung Karno menikah (ke-4) dengan Ratna Sari Dewi dari Jepang.

● 1 Oktober 1962:
Irian Barat (Papua Barat) diserahkan Belanda kpd United Temporary Executive Administration (UNTEA).

● 24 April 1963:
Pembukaan Konferensi Wanita Asia-Afrika di Jakarta.

● 1 Mei 1963:
Irian Barat kembali ke pangkuan NKRI.

● 4 Mei 1963:
Bung Karno berkunjung ke Irian Barat.

● 21 Mei 1963:
Bung Karno menikah (ke-5) dengan Ny. Haryati.

● 10 November 1963:
Pembukaan Games of New Emerging Forces (GANEFO) yang pertama di Jkt, sebagai pesta olahraga bagi negara-negara berkembang untuk menyaingi pesta olahraga Olimpiade.

● 3 Mei 1964:
Dwi Konando Rakyat (Dwikora) diumumkan.

● 6 Maret 1965:
Pembukaan Konferensi Islam Asia-Afrika dibuka di Bandung.

● 18 April 1965:
Peringatan pertama Dasawarsa Konferensi Asia-Afrika di Jkt.

● 30 September 1965:
Gerakan kontra revolusi meletus di Jkt yang dikenal dengan "G-30S PKI".

● 1 Oktober 1965:
Para pahlawan gugur akibat pembantaian di Lubangbuaya oleh PKI.

● 11 Maret 1966:
Presiden Soekarno mengeluarkan SURAT PERINTAH SEBELAS MARET (Supersemar) kepada Menteri Pangad Letnan Soeharto utk mengendalikan keamanan negara.

● 20 Februari 1967:
Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Djenderal Soeharto.

● 7-12 Maret 1967:
Bung Karno diberhentikan sebagai Presiden RI oleh MPRS setelah pidato pertanggunganjawaban yang berjudul "Nawaksara" ditolak MPRS.

● 21 Juni 1970:
Bung Karno wafat setelah dikenai tahanan rumah selama 3 tahun, di Wisma Yaso Jkt dan di Batutulis Bogor.

● 21 Juni 1979:
Peresmian Pemugaran Makam Bung Karno di Blitar oleh Presiden Soeharto.

● 14 Mei 1980:
Ibu negara Fatmawati wafat di Jakarta.  [*]

*) Muarabeliti, 20 Februari 2020.

TOKOH REPUBLIK (1)

BUNG KARNO & HARI-HARI BERSEJARAH DI AWAL NKRI (1)

Oleh: Hendy UP *)

[Catatan ini ditukil dari: (1) Buku Seri Dokumenter "HARI-HARI TERAKHIR BUNG KARNO". Penerbit Vision-03, PT. Visi Gagas Komunika Depok; Jakarta, Agustus 2006, 66 hal. (2) Buku API SEJARAH: MAHAKARYA PERJUANGAN ULAMA DAN SANTRI DLM MENEGAKKAN NKRI (Jilid 1 dan 2), karya Ahmad Mansur Suryanegara. Penerbit Surya Dinasti, Bandung. Cetakan ke-1, edisi revisi, Maret 2016. Total 597 + 597 hal; (3) Buku "NEGARA PARIPURNA: HISTORISITAS, RASIONALITAS, DAN AKTUALITAS PANCASILA" karya Yudi Latif. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, cet ke-1, Jakarta, 2011. 667 hal].

● 6 Juni 1901 :
Soekarno lahir di Lawang Seketeng, Surabaya, Jawa Timur. Nama awal yang diberikan orangtuanya adalah Koesno.

●1915:
- Tamat Europeshe Lager School di Mojokerto, Jawa Timur.
- Soekarno dikhitan (sunatan/Islam).

● 1917:
Mendirikan Trikoro Dharmo yg kemudian berubah menjadi Jong Java.

● 1920:
Menikah (pertama) dengan Siti Oetari putri Haji Oemar Said (HOS) Tjokro Aminoto.

● 10 Juni 1921:
Tamat dari Hooger Burger School (HBS) di Surabaya.

● 24 Maret 1923:
Menikah (kedua) dengan Ny. Inggit Garnasih di Bandung.

● 25 Mei 1926:
Tamat dan lulus dari Technische Hoge School (THS) Bandung dengan gelar 'civiel ingeneur'. THS kelak menjadi Institut Teknologi Bandung.

● 1926:
Menulis artikel tentang "Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme".

● 26 Juli 1926:
Mendirikan Biro Insinyur Soekarno & Anwari di Bandung (Jln. Dewi Sartika/Regensweg No. 22).

● 4 Juli 1927:
Mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI).

● 1928:
Mulai mengajarkan TRILOGI-nya yang terkenal dengan: Nationale Geest, Nationale Wil, Nationale Daad. Bahwa: "Revolutie is daad; Revolutie is niet een decreet van achter de schriff-tafel".

● 18 Agustus 1930:
Dihadapkan ke Pengadilan Kolonial di Bandung, dan keluar pidato pembelaannya "Indonesia Menggugat".

● 1932:
Mendirikan Biro Insinyur Soekarno & Rooseno di Bandung (Jl. Banceuy No. 18).

● 1934:
Dibuang ke Endeh Flores. Banyak belajar tentang Islam dan banyak menulis artikel ttg keislaman. Terbit risalah yang terkenal "Surat-Surat Islam dari Endeh". Menderita sakit malaria tropika; sehingga Moh. Husni Thamrin protes kepada Kolonial di Volksraad; dan akhirnya memindahkan Bung Karno ke Bengkulu.

● 1938:
Bung Karno dibuang ke Bengkulu. Aktif di organisasi Muhammadiyah, menjabat sbg Ketua Bagian Pengajaran Muhammadiyah Daerah Bengkulu; aktif menulis artikel tentang ke-Islaman.

● 9 Juli 1942:
Dipindahkan ke pulau Djawa.

● 9 Maret 1943:
Membentuk POETERA (Poesat Tenaga Ra'jat). Tampaknya Bung Karno berkolaborasi dengan Djepang (sebuah strategi) selama pendudukan Djepang. Fokus mempersiapkan tenaga rakyat untuk mewujudkan kemerdekaan RI kelak.

● Juni 1943:
Menikah dengan Fatmawati binti H. Hasan dari Bengkulu (Tokoh organisasi Muhammadiyah).

● 1 Juni 1945:
Bung Karno menyampaikan pidato di depan sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dikenal HARI LAHIRNYA PANCASILA.

● 22 Juni 1945:
Lahirnya Piagam Djakarta.

● 17 Agustus 1945:
Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

● 18 Agustus 1945:
Pengesahan UUD 1945. Bung Karno dipilih sebagai Presiden dan Bung Hatta sebagai Wakil Presiden pertama RI.

● 5 Oktober 1945:
Dekrit Presiden tentang pembentukan Angkatan Perang.

● 4 Januari 1946:
Bung Karno pindah Yogyakarta.

● 3 Juli 1946:
Usaha pembunuhan (pertama) terhadap Presiden Soekarno yg terkenal dengan "Peristiwa Tiga Juli".

● 25 Maret 1947:
Perjanjian Linggarjati oleh Sutan Sjahrir.

● 21 Juli 1947:
Aksi Militer Belanda Pertama.

● 17 Januari 1948:
Perjanjian Renville ditandatangani oleh Mr. Amir Sjarifuddin.

● 18 September 1948:
Pemberontakan PKI meletus di Madiun yang dipimpin oleh Muso.

● 19 Desember 1948:
Aksi Militer Belanda Kedua. Yogyakarta diduduki oleh Belanda. Bung Karno bersama2 pejuang pemimpin bangsa lainnya dibuang/diasingkan ke Brastagi dan Prapat SUMUT, dan dipindahkan ke Bangka.

● 6 Juli 1949:
Bung Karno dkk dikembalikan ke Yogyakarta setelah Perjanjian di Kapal "Roem van Royen".

[Bersambung...]

Rabu, 29 Januari 2020

GESAH LITERASI

ROSIHAN ANWAR: WARTAWAN, STORY-TELLER & NOVEL BEAU GESTE

Oleh: Hendy UP *)

     "Waratawan itu seharusnya juga seorang story-teller, penutur kisah dan penggembira khalayak". Ini petuah Rosihan Anwar (RA) ketika usianya mendekati 70 tahun, dan semacam obsesi beliau akan standar seorang wartawan di era milenial.

      Yaa, di era 1970 hingga 1980-an banyak wartawan sekaliber RA yang tidak hanya piawai memburu berita, mahir menganalisis setumpuk data, trengginas menyintesis ragam fakta dan fasih mengalkulasi kemungkinan rentetan fakta (baru); tetapi juga sangat jeli memilih diksi dalam menyusun narasi pemberitaan.

      Sekadar contoh untuk menyebut beberapa: Adam Malik, Goenawan Mohamad, Harmoko, Taufik Ismail, Karni Ilyas, Dahlan Iskan, Putut Tri Husodo dan 'temen gue' Suwidi Tono yang mantan news editor Sriwijaya Post dan kini menjadi penulis buku merangkap juragan penerbit Vision-3 di Depok.

      Anehnya, kebanyakan mereka bukan alumni Fakultas Sastra atau Sekolah Publisistik, tapi dari alumni apapun: teknik, ekonomi, pertanian dan bahkan fakultas kedokteran hewan dan pondok pesantren. Cak Nun dan Andrea Hirata adalah sekadar teladan tokoh. Jadi pada galibnya, profesi wartawan adalah profesi terbuka yang tidak mensyaratkan lulusan apapun.

       Bahkan di era 'home schooling' kelak, menjadi wartawan niscaya tak perlu-perlu amat ijazah, tapi lebih pada keahlian dan kemahiran spesifik: speed-logic, falsafah hidup, dignitas, kejujuran, sintaksis-morfologi bahasa plus sejuta kosa-kata!

      Misalnya: kecepatan merangkum narasi sebuah buku 300 halaman menjadi 3 lembar kuarto, doble spasi, ukuran font 12 dalam 30 menit. Mahir mengaplikasikan navigasi explorer, microsoft excel, dan membuat workbook serta keahlian searching & googling di dunia IT.

      Kembali ke sosok RA, beliau adalah wartawan yang melampaui jamannya. Beliau lahir di Sirukam Solok (Sumbar), 10 Mei 1922; dan wafat di Jakarta 14 April 2011 (88 tahun). Alumni Hollanch Indische School (HIS/SR) Padang 1935, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO/SMP) Padang 1939, dan Algemeene Midelbaare School (AMS/SMA) Yogya 1942. Pernah mengikuti kelas Drama Workshop di Yale University (1950) dan menimba ilmu di School of Journalism di Columbia University (1954).

      Mulai berkarir di dunia jurnalistik sebagai reporter "ASIA RAYA" dari 1943 - 1945. Ada belasan koran dan majalah baik di dalam maupun luar negeri yang pernah beliau geluti sebagai reporter dan wartawan. Puncak karirnya adalah menjadi pendiri sekaligus Pemred Majalah "SIASAT" (1947-1957) dan harian "PEDOMAN" (1948-1961 dan (1968-1974) yang kemudian dibredel pasca-MALARI 1974.

      Setelah mengalami 'kepahitan' politik Orde Baru, beliau lebih menikmati sebagai kolumnis, editor dan reporter free-lancer untuk penerbitan luar dan dalam negeri. Tidak heran jika sosok RA dikenal sebagai Tokoh Pers, Sejarawan sekaligus Sastrawan dan Budayawan.

         Sebagai pembaca literasi yang tamak dan cepat menuangkannya dalam aneka gaya tulisan yang lugas, RA dikenal sebagai sosok penulis-reporter yang prolifik (subur), menulis apa saja yang fenomenal: evergreen, momental dan sustainable stories. Ketika menjelang ultahnya ke-70 (1992), terdengar "operasi senyap", bahwa rekan-rekannya, antara lain: Jakob Oetama, Djafar Assegaf, Sabam Siagian dan Tribuana Said akan menghadiahi buku tentang dirinya, maka ia teringat sebuah novel Beau Geste karya PC Wren. Itu bahasa Prancis yang berarti sikap ramah nan mulia.

        Novel itu kemudian diangkat ke layar lebar oleh sutradara WA. Wellman pada tahun 1939. Sang bintang utama Gary Cooper, Ray Milland dan Robert Preston mampu memerankan operasi "senyap nan mulia" di tengah dalu, demi memperebutkan permata yang ternyata palsu. Operasi senyap rekan-rekannya itulah yang menginspirasi RA menghadiahi ulang tahunnya sendiri dengan menyusun buku "INDONESIA 1966-1983".

        Buku itu melengkapi buku karya beliau yang lain: Kisah-Kisah Zaman Revolusi (1975), Sebelum Prahara (1981), Menulis dalam Air (1983), Musim Berganti (1985) dan Perkisahan Nusa (1986). [***]

*) Blogger: www.andikatuan.net

Kamis, 16 Januari 2020

SERIAL KRONIK LITERASI

DOKTER DJAWA ITU SETARA SMP SEKARANG

Oleh: Hendy UP *)

     Alkisah, awalnya otoritas VOC tidak mengontrol persoalan religio pribumi Nusantara termasuk institusi pendidikan tradisionalnya, khususnya pesantren.

     Selama hampir 200 tahun (1602-1800) VOC bercokol, ada semacam arogansi-superioritas yang diyakini bahwa dalam kamus evolusi modernisme yang mereka anut: jika masyarakat modern pasang, maka kepercayaan dan ketaatan terhadap agama akan surut (Yudi Latif, 2011).

      Namun demikian, ketika terjadi pergeseran ideologi Eropa dengan munculnya pertentangan antara pandangan sekuler di Belanda dengan hasrat Kolonial untuk meredam perlawanan sporadis pribumi yang berbasis agama, maka dimulailah gerakan 'religiosasi' ruang publik. Pada tahun 1664, VOC membatasi perjalanan pribumi untuk berhaji ke Makkah.

        Ketika upaya memberangus perlawanan pribumi yang dimotori Pesantren tidak berhasil, maka pasca- VOC dibubarkan (31 Desember 1799) serta merta Gubernur Jenderal HW Daendels menerbitkan Dekrit (1810) yang membatasi bepergian para ulama walau hanya di dalam wilayah Nusantara.

     Tonggak penting perubahan politik-pendidikan era Kolonial, berawal dari kemenangan rezim Liberal di Belanda pada tahun 1848. Ruang publik sekuler mulai terbangun di Nusantara, yang menjelmakan antara lain: institusi sekolah, lembaga penelitian, pers vernakular dan pelbagai penerbitan (print capitalism).

       Guna mendukung liberalisasi ekonomi-industri yang 'modern' di Nusantara dan memperbesar pundi-pundi kolonial, maka diperluaslah layanan birokrasi sipil untuk pribumi dan kolonial. Sedari awal disadari, bahwa gerakan pendidikan ini bersifat dilematis yang bisa menggerogoti superioritas kolonial dan berujung pada gerakan masif nasionalisme pribumi.

     Maka disusunlah desain pendidikan yang berprinsip segregatif-etnik dan hierarkis-status yang anti-asimilasi, elitis dan dualistik. Desain ini terutama dirancang oleh Snouck Hurgronye, dan agaknya mengukuhkan kesan untuk menghadang hegemoni pesantren dan gerakan tarekat sebagai Gerakan Pan-Islamisme Pribumi.

     Menurut catatan sejarawan Sartono Kartodirdjo (1984) dalam buku "Pembrontakan Petani Banten 1888" setidaknya terdapat 300-an Pesantren yang terkenal kala itu, antara lain: Pesantren Lengkon dan Punjul di Cirebon, Dayeuhluhur di Tegal, Brangkal di Bagelen, Tegalsari dan Banjarsari di Madiun, dan Sidacerma di Surabaya.

     Pada tahun 1818 mulailah dibangun model pendidikan di Nusantara. Mula-mula didirikan ELS (Europesche Lager School) untuk anak-anak kolonial; dan sedikit anak bangsawan pribumi (anak raja). Untuk etnis Cina dibangun HCS (Hollandsch Chinese School), dan etnis Ambon adalah satu-satunya yang diberi keistimewaan dengan dibentuknya ABS (Ambonsche Burger School) atas loyalitas tingginya kepada Kolonial Belanda (AM Suryanegara, 2015).

      Pada tahun 1907, barulah didirikan sekolah untuk pribumi Islam dengan 3 tahapan dan kejuruan, yaitu: Lager Onderwijs (rendah), Muddelbaar Onderwijs (lanjutan), Hooger Onderwijs (tinggi), dan Vokonderwijs (kejuruan). Khusus sekolah rendah terdiri 6 model. Menurut Soemarsono (1986) dalam buku "Pendidikan di Indonesia dari Jaman ke Jaman", ke-enam LO itu adalah: (1) Indische School/Sekolah India 5 th, (2) Volk School/Sekolah Desa 3 th, (3) Vervolg School/Sekolah Rendah 2 th, (4) Schakel School/Sekolah Peralihan 5 th, (5) Hollanch Indische School/Sekolah India Belanda 6 thn, dan (6) Hoofden School (Sekolah Raja).

      Selanjutnya, untuk memenuhi tenaga kerja di perkebunan, didirikan Middle Onderwijs (menengah) yakni Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), dan Algemeene Middelbaare School (AMS) setingkat SLTA. Di sektor kesehatan, pada tahun 1902 didirikan School Tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA). Muridnya berasal dari lulusan SR 5 thn, lama studi 3 tahun dengan gelar Dokter Djawa.

      Pada tahun 1913, diubah menjadi Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), muridnya lulusan MULO dengan masa studi 7 tahun; dan gelarnya diubah menjadi Indische Artsen.

*) Muarabeliti, 16 Des 2020

Jumat, 03 Januari 2020

GESAH HUMANIORA

CATATAN RABU DI TAHUN BARU

Oleh: Hendy UP *)

     Sedari masa kecil hingga remaja di akhir dekade 70-an, aku memang tak terbiasa dengan tradisi 'hura-hura' tahun baruan. Yang aku ingat, hanya tumpengan Sedekah Bumi 1 Muharam-Syuroan, atau Mauludan di Langgar-Mushola plus takiran.

     Maklumlah... aku dibesarkan di pojok kampung Indonesia yang sangat kampungan. Di ujung Banyumas Barat yang bahasa ibunya gak' genah. Campursari kultur Banyumas yang lugas-memberontak, plus Priangan Timur yang mulai kehilangan imaji kelenturan Sundaismenya.  Dalam kajian budaya, mungkin terkategori subkultur pesisir PANSELVA (Java) antonim dari PANTURA yang lebih masyhur.

       Dalam khasanah sejarah, lahan kami yang sangat subur itu barangkali karena ada tumpukan remah al-janazah dan genangan darah dendam pascaperang Bubat (1357 M) di masa kelam Majapahit versus Kerajaan Sundayana.

       Konon gara-garanya sepele. Soal salah paham atau strategi (?) Patih Gadjah Mada yang ambisius-ekspansionis, untuk menguasai tanah Sunda dengan melamar Dyah Pitaloka binti Linggabuana yang akan dipermaisuri oleh Mas Hayam Wuruk. Yaa... itu sejarah yang masih 'debatable', tapi silakan baca sinopsis tarjamah: Serat Pararaton atau Kidung Sundayana!

     Okelah kita tutup sementara sejarah dahulu kala! Kembali ke fokus gesah. Aku sangat mafhum bahwa aku tak biasa pesta tahun baruan. Aku lahir dari petani miskin. "My parent is a yeoman, cropter, or small peasant. Not a small farmer, what more farmer". Aku kadang 'kesal' dengan Tim Programer bahasa Google, yang masih dungu menerjemahkan 'petani kecil' sebagai 'small farmers'.  Mungkin mereka belum baca buku James C. Scott "The Moral Economy of the Peasant", atau yang lebih update "The Rational Peasant" nya Samuel Popkin.

     Sembari melupakan kedunguan mereka, aku baru sadar bahwa malam ini adalah malam tahun baru. Agak malam, aku buka gawai. Maka berdentinganlah notifikasi: e-mail, WA, twitter, tempo.co, linggaupos.co.id di dapur buri yang sunyi. Sudah limatahunan, kami MANULA hanya berdua, tanpa sesiapa, di rumah yang hampa.   Sesekali di akhir pekan ada para cucu yang sibuk-masyuk dengan dunianya. Kami sering tertawa-ria bagai melepas sendawa.

      Gerimis malam masih mengintai. Tak ada bunyi petasan atau gendang dangdutan. Mungkin karena himbauan para Bupati/Walikota yang mujarab, yang kubaca di WAGrup pejabat Pemda. Nomor HP-ku nyasar di Grup mereka, mungkin lantaran namaku masih tercatat sebagai CEO-SATPAM sebuah lembaga non-organik Pemda.

        Yang memrihatinkan menjelang malam, baik di medsos maupun postingan member WAG yang kuikuti adalah: hujan deras di Bogor-JABODETABEK, kali Ciliwung yang marah-serapah dan warning Jakarta yang, siap tak siap bakal melumpuh di Tahun Baru. Aku mulai memantau Google Map kawasan Jakarta yang potensial banjir utk memastikan tak melanda pemukiman anak-cucuku.

    Untunglah pagi harinya ada instruksi Gubernur Anies yang berdurasi 3,26 menit tentang kewajiban moral para aparatnya. Rabu di awal tahun baru, kami tak kemana-mana. Aku tahu, jalanan Mirasi bakal macet seperti dua tiga tahun lalu. Sebagai orang yang mukim di kawasan eks Kolonisasi-Mirasi, yang menjadi daerah incaran wisata di libur panjang, aku belajar dari orang Bandung mana kala menjelang Jumat hinggau Ahad petang:
     "Silakan kalian warga Jakarta datang bermacet-macetan ke Lembang, kami mah tos bosan, dan lebih nyaman menikmati hidup dengan majelis pengajian....".

     Agak siang, agak jenuh memandang angsa berenang dan tupai berlompatan riang, sembari memungut jatuhan durian di laman belakang, aku beranjak ke perpustakaan. Agak berdebu nan centang-perenang. Lalu kuambil sebuah novel di rak sudut yang kesepian.

        Kubuka serampangan, di akhir halaman, di paragraf yang pungkasan: "Langit memang mulai memerah di tepi lereng Pegunungan Kendeng. Senja akan segera turun!" Itu kata Umar Kayam dlm menutup novel Sang Priyayi, 1991. Dua puluh tahun yang lalu, ia berkarya. Dan hari ini aku membaca ulang karyanya. [*]

*) Muarabeliti, 2 Januari 2020
    

Kamis, 02 Januari 2020

GESAH BUDAYA

FILM HAYYA: MELEPAS KORTISOL & GUGUS ENDORFIN

Oleh: Hendy UP *)

       Seratusan menit menikmati Film Hayya, aku mengalami tiga hal: ejakulasi batin, permenungan jiwa dan pelepasan endorpin otak yang mangkal pada sirkuit kegembiraan. Aku tak tahu, apakah penonton lain termasuk Benny Arnas yang duduk di depanku meraih pengalaman yang sama?

      Entahlah! Sepuluh menit pertama, dalam kegelapan gedung Sinemaxx Lippo, penonton disuguhi adegan sedih. Keceriaan Hayya dan puluhan anak Palestin di Pasar Jabalia melambungkan rasa bersalah kita. Kegembiraan anak-anak kita di pedesaan, dari Muarabeliti, Jukung hingga dusun Selangit, adalah kegembiraan genuin yang tak terbeban kemungkinan tertembus peluru atau desing mesiu di atas ubunnya.

     Kerekatan gadis kecil Hayya dengan Rahmat selama di barak pengungsian, tiba-tiba harus ditetak jiwanya, karena Rahmat akan kembali ke Indonesia. Hayya kecil memberontak, tak terima. Inilah awal kisah yang membuat Hayya nekad masuk ke koper besar Rahmat ikut serta berlayar ke Indonesia. Memang episode yang ini agak melawan rasionalitas penonton.

       Tanpa sadar, ada kilatan bayang fotopsia menghalangi layar lebar. Aku menahan air bening yang menggelayuti kelopak mata, seakan sedang menderita ablasio retina; sejurus kemudian syaraf simpatetik mataku menegang, lalu melepaskan hormon kortisol. Dan jatuhlah lelehan air kesedihan itu! Sebaliknya, ada adegan kocak Adhin, berlari menyungging Hayya ketika menyelamatkannya dari kejaran Polisi.

     Ada hiruk-pikuk para 'Banci' yang menggelakkan beruyak-tawa. Penonton terpingkal-pingkal histeria! Background kampung kumuh dan "AWAS ANJING GALAK", mampu melupakan sejenak jejak keprihatinan nasib Hayya. Syaraf penonton dipaksa melepas endorfin dan memainkan sirkuit kegembiraan yang meluap-luap.

       Agaknya sutradara Jastis Arimba sangat mumpuni dalam menakar harmonik osilasi jiwa penonton, dan menghitung ujung amplitudonya: titik ekstrim syaraf jiwa-sedih dan titik ekstrim bahak- kegembiraan. Tentu saja, sutradara telah mengalkulasi potensi populasi penontonnya, yakni kaum milenial dan generasi-Z yang kini dominan dalam statistik demografi Indonesia.

        Kejelian sang sutradara Jastis niscaya selaras dengan kepiawaian produser Erik Yusuf bersama Helvy TR di bawah bendera Warna Pictures. Pasti bukan tanpa alasan ketika setting-place yang dipilih adalah Pasar Jabalia, Gaza Palestina dan kota Tasikmalaya Jawa Barat, dengan riak-dialek Priangan Timur yang agak vulgar dan kadang khas mendayu-dayu. Sungguh selaras, kompromi pemilihan para bintang yang pas dalam memerankan karakter yang dibangun penovelnya: Helvy dan Benny.

     Tokoh Rahmat Asyraf Pranaja (Fauzi Baadila) seorang jurnalis sang pendosa yang bersemangat menebus masa lalunya, mampu mengekspresikan kegelisahan dan irrasionalitas tindakannya. Sementara tokoh Hayya Qasim (Amna Hasanah Shahab) dipoles karakternya persis sebagaimana persepsi kita terhadap anak-anak Palestin yang full-traumatik, sarat bully dan nyaris kehilangan masa kanaknya karena direnggut Zionis super-biadab.

       Tokoh penting lain yang menyempurnakan multi adegan itu adalah: Adhin Abdul Hakim sebagai Adhin, sangat berhasil meluruhkan 'pembrontakan' jiwa Rahmat dan mampu menyuguhkan banyolan-intelek dalam kebersamaan peran di pelataran jihadnya. Bintang-bintang berbakat lain yang mendukung keberhasilan HAYYA ini adalah mereka yang terbukti mampu memerankan sekuel The Power of Love 2.

     Mereka adalah novelis Asma Nadia, Meyda Sefira, Ria Ricis, Humaidi Abas dan Hamas Syahid. Betapapun, film HAYYA adalah simbol kebangkitan ghiroh ummat dunia, beragama apa pun, yg masih peduli akan peri kemanusiaan dan peri keadilan demi mendukung eksistensi Bangsa Palestin. Lebih dari itu, bagi "Wong Linggau" novel dan film HAYYA adalah menjulang-tingginya bendera SILAMPARI yang bertajuk #JIHADBUDAYA. Yang menjulangkannya adalah seorang sarjana pertanian: BENNY ARNAS. Bukan yang lain! Allohu'
a'lam bishshowab.

*) Muarabeliti, September 24, 2019