Selasa, 29 Januari 2019

WATERVANG 1942: MENELAN DANA 5,5 MILYAR

"The whole irrigation system of this colony was to have been completed by the end of 1942 at an estimated cost of 765,000 guilders". [KJ Pelzer, 1945, page 222].

Dalam kamus bahasa Belanda, watervang berarti perangkap air. Watervang Lubuklinggau selesai dibangun 1942, walaupun tertulis di dinding dam induk tahun 1941; di jaman Governor General van Starkenborgh Stachouwer, GG terakhir di jaman Hindia Belanda.

Gbr. Pengerjaan Konstruksi Bendung Watervang, Lubuklinggau [antara 1939~1940]
Menurut catatan KJ Pelzer dalam "Pioneer Settlement in The Asiatic Tropics", proyek irigasi Watervang menghabiskan dana sekitar 765 ribu gulden. Jika kita konversi per hari ini, yakni satu gulden sekitar Rp. 7.300~an, maka Watervang menghabiskan dana sekitar Rp. 5,5 Milyar. Benarkah?

Angka sebesar itu sepertinya mustahil di jaman itu. Apakah nilai kurs rupiah saat ini yg sedemikian terpuruk, ataukah Pelzer salah kutip dokumen; atau bisa jadi....maaf sudah ada 'mark up' anggaran di era Kolonial itu? Allohu'alam...!

Tetapi jangan keliru sangka. Menurut Pelzer, dana sebesar itu termasuk utk konsultan perencana dan survei serta belanja modal membangun  jaringan irigasi hingga ke Tanahperiuk, Srikaton terus ke ujung F. Trikoyo, yang panjangnya sekitar 10 km. Bahkan, jaringan sepanjang 3,15 km dari Watervang dibangun dengan konstruksi khusus mengingat kondisi porositas tanah (pasir) yang rawan jebol.

Pasirah Marga Proatin Lima bersama 15 Lurah di Kolonisasi Tugumulyo antara tahun 1940-1941
Bendungan Watervang tidak bisa dipisahkan dengan sejarah kolonisasi Toegoemuljo  (1937~1940) di wilayah Marga Proatin V pada era Pasirah/Pangeran Amin Ratoe Asmaraningrat. Negosiasi diperkirakan tahun 1936~1937 utk mendapatkan izin lokasi kolonisasi (transmigrasi) dan area bendung Watervang, disinyalir cukup alot. Bahkan pihak Belanda pernah ragu utk meneruskan kolonisasi itu.

Dari 35 ribu hektar yg disurvei, akhirnya disepakati hanya 6.575 ha dan lokasinya bergeser ke D. Tegalrejo; desa Tanahperiuk tetap menjadi wilayah marga. Itu pun dengan syarat: areal seluas 2.735 hektar harus diperuntukan bagi warga pribumi Proatin V. Dan sisanya seluas 3.840 ha utk transmigran Javanese. Jangan lupa, kala itu wilayah marga Proatin V terbentang luas dari Muarabeliti hingga ke Tabapingin, tepatnya hingga di jalan Kelabat Talangjawa Lubuklinggau. Dalam catatan sejarah, marga Proatin Lima mencakup 5 dusun: Muarabeliti, Pedang, Tanahperiuk, Tabapingin dan Kayuara.

Fungsi awal Watervang adalah sebagai pemasok air irigasi utk persawahan sebagai salah satu realisasi  politik 'balas jasa' van Deventer: edukasi~emigrasi~irigasi. Niscaya tak pernah terbayangkan oleh Pangeran Amin dan van Deventer bahwa kelak akan terjadi diversifikasi fungsi Watevang, yakni sebagai objek wisata sejarah.

Booklet "Destinasi Wisata" Lubuklinggau barangkali telah disusun full color; namun ada baiknya bisa disajikan narasi sejarah Watervang yang faktual sebagai daya tarik bagi wisatawan manca negara. Mudah~mudahan.

  *) Penulis adalah peminat sejarah dan     budaya lokal.  Mukim di Lubuklinggau. Blogger:  www.andikatuan.net