Kamis, 16 Januari 2020

SERIAL KRONIK LITERASI

DOKTER DJAWA ITU SETARA SMP SEKARANG

Oleh: Hendy UP *)

     Alkisah, awalnya otoritas VOC tidak mengontrol persoalan religio pribumi Nusantara termasuk institusi pendidikan tradisionalnya, khususnya pesantren.

     Selama hampir 200 tahun (1602-1800) VOC bercokol, ada semacam arogansi-superioritas yang diyakini bahwa dalam kamus evolusi modernisme yang mereka anut: jika masyarakat modern pasang, maka kepercayaan dan ketaatan terhadap agama akan surut (Yudi Latif, 2011).

      Namun demikian, ketika terjadi pergeseran ideologi Eropa dengan munculnya pertentangan antara pandangan sekuler di Belanda dengan hasrat Kolonial untuk meredam perlawanan sporadis pribumi yang berbasis agama, maka dimulailah gerakan 'religiosasi' ruang publik. Pada tahun 1664, VOC membatasi perjalanan pribumi untuk berhaji ke Makkah.

        Ketika upaya memberangus perlawanan pribumi yang dimotori Pesantren tidak berhasil, maka pasca- VOC dibubarkan (31 Desember 1799) serta merta Gubernur Jenderal HW Daendels menerbitkan Dekrit (1810) yang membatasi bepergian para ulama walau hanya di dalam wilayah Nusantara.

     Tonggak penting perubahan politik-pendidikan era Kolonial, berawal dari kemenangan rezim Liberal di Belanda pada tahun 1848. Ruang publik sekuler mulai terbangun di Nusantara, yang menjelmakan antara lain: institusi sekolah, lembaga penelitian, pers vernakular dan pelbagai penerbitan (print capitalism).

       Guna mendukung liberalisasi ekonomi-industri yang 'modern' di Nusantara dan memperbesar pundi-pundi kolonial, maka diperluaslah layanan birokrasi sipil untuk pribumi dan kolonial. Sedari awal disadari, bahwa gerakan pendidikan ini bersifat dilematis yang bisa menggerogoti superioritas kolonial dan berujung pada gerakan masif nasionalisme pribumi.

     Maka disusunlah desain pendidikan yang berprinsip segregatif-etnik dan hierarkis-status yang anti-asimilasi, elitis dan dualistik. Desain ini terutama dirancang oleh Snouck Hurgronye, dan agaknya mengukuhkan kesan untuk menghadang hegemoni pesantren dan gerakan tarekat sebagai Gerakan Pan-Islamisme Pribumi.

     Menurut catatan sejarawan Sartono Kartodirdjo (1984) dalam buku "Pembrontakan Petani Banten 1888" setidaknya terdapat 300-an Pesantren yang terkenal kala itu, antara lain: Pesantren Lengkon dan Punjul di Cirebon, Dayeuhluhur di Tegal, Brangkal di Bagelen, Tegalsari dan Banjarsari di Madiun, dan Sidacerma di Surabaya.

     Pada tahun 1818 mulailah dibangun model pendidikan di Nusantara. Mula-mula didirikan ELS (Europesche Lager School) untuk anak-anak kolonial; dan sedikit anak bangsawan pribumi (anak raja). Untuk etnis Cina dibangun HCS (Hollandsch Chinese School), dan etnis Ambon adalah satu-satunya yang diberi keistimewaan dengan dibentuknya ABS (Ambonsche Burger School) atas loyalitas tingginya kepada Kolonial Belanda (AM Suryanegara, 2015).

      Pada tahun 1907, barulah didirikan sekolah untuk pribumi Islam dengan 3 tahapan dan kejuruan, yaitu: Lager Onderwijs (rendah), Muddelbaar Onderwijs (lanjutan), Hooger Onderwijs (tinggi), dan Vokonderwijs (kejuruan). Khusus sekolah rendah terdiri 6 model. Menurut Soemarsono (1986) dalam buku "Pendidikan di Indonesia dari Jaman ke Jaman", ke-enam LO itu adalah: (1) Indische School/Sekolah India 5 th, (2) Volk School/Sekolah Desa 3 th, (3) Vervolg School/Sekolah Rendah 2 th, (4) Schakel School/Sekolah Peralihan 5 th, (5) Hollanch Indische School/Sekolah India Belanda 6 thn, dan (6) Hoofden School (Sekolah Raja).

      Selanjutnya, untuk memenuhi tenaga kerja di perkebunan, didirikan Middle Onderwijs (menengah) yakni Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), dan Algemeene Middelbaare School (AMS) setingkat SLTA. Di sektor kesehatan, pada tahun 1902 didirikan School Tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA). Muridnya berasal dari lulusan SR 5 thn, lama studi 3 tahun dengan gelar Dokter Djawa.

      Pada tahun 1913, diubah menjadi Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), muridnya lulusan MULO dengan masa studi 7 tahun; dan gelarnya diubah menjadi Indische Artsen.

*) Muarabeliti, 16 Des 2020

Jumat, 03 Januari 2020

GESAH HUMANIORA

CATATAN RABU DI TAHUN BARU

Oleh: Hendy UP *)

     Sedari masa kecil hingga remaja di akhir dekade 70-an, aku memang tak terbiasa dengan tradisi 'hura-hura' tahun baruan. Yang aku ingat, hanya tumpengan Sedekah Bumi 1 Muharam-Syuroan, atau Mauludan di Langgar-Mushola plus takiran.

     Maklumlah... aku dibesarkan di pojok kampung Indonesia yang sangat kampungan. Di ujung Banyumas Barat yang bahasa ibunya gak' genah. Campursari kultur Banyumas yang lugas-memberontak, plus Priangan Timur yang mulai kehilangan imaji kelenturan Sundaismenya.  Dalam kajian budaya, mungkin terkategori subkultur pesisir PANSELVA (Java) antonim dari PANTURA yang lebih masyhur.

       Dalam khasanah sejarah, lahan kami yang sangat subur itu barangkali karena ada tumpukan remah al-janazah dan genangan darah dendam pascaperang Bubat (1357 M) di masa kelam Majapahit versus Kerajaan Sundayana.

       Konon gara-garanya sepele. Soal salah paham atau strategi (?) Patih Gadjah Mada yang ambisius-ekspansionis, untuk menguasai tanah Sunda dengan melamar Dyah Pitaloka binti Linggabuana yang akan dipermaisuri oleh Mas Hayam Wuruk. Yaa... itu sejarah yang masih 'debatable', tapi silakan baca sinopsis tarjamah: Serat Pararaton atau Kidung Sundayana!

     Okelah kita tutup sementara sejarah dahulu kala! Kembali ke fokus gesah. Aku sangat mafhum bahwa aku tak biasa pesta tahun baruan. Aku lahir dari petani miskin. "My parent is a yeoman, cropter, or small peasant. Not a small farmer, what more farmer". Aku kadang 'kesal' dengan Tim Programer bahasa Google, yang masih dungu menerjemahkan 'petani kecil' sebagai 'small farmers'.  Mungkin mereka belum baca buku James C. Scott "The Moral Economy of the Peasant", atau yang lebih update "The Rational Peasant" nya Samuel Popkin.

     Sembari melupakan kedunguan mereka, aku baru sadar bahwa malam ini adalah malam tahun baru. Agak malam, aku buka gawai. Maka berdentinganlah notifikasi: e-mail, WA, twitter, tempo.co, linggaupos.co.id di dapur buri yang sunyi. Sudah limatahunan, kami MANULA hanya berdua, tanpa sesiapa, di rumah yang hampa.   Sesekali di akhir pekan ada para cucu yang sibuk-masyuk dengan dunianya. Kami sering tertawa-ria bagai melepas sendawa.

      Gerimis malam masih mengintai. Tak ada bunyi petasan atau gendang dangdutan. Mungkin karena himbauan para Bupati/Walikota yang mujarab, yang kubaca di WAGrup pejabat Pemda. Nomor HP-ku nyasar di Grup mereka, mungkin lantaran namaku masih tercatat sebagai CEO-SATPAM sebuah lembaga non-organik Pemda.

        Yang memrihatinkan menjelang malam, baik di medsos maupun postingan member WAG yang kuikuti adalah: hujan deras di Bogor-JABODETABEK, kali Ciliwung yang marah-serapah dan warning Jakarta yang, siap tak siap bakal melumpuh di Tahun Baru. Aku mulai memantau Google Map kawasan Jakarta yang potensial banjir utk memastikan tak melanda pemukiman anak-cucuku.

    Untunglah pagi harinya ada instruksi Gubernur Anies yang berdurasi 3,26 menit tentang kewajiban moral para aparatnya. Rabu di awal tahun baru, kami tak kemana-mana. Aku tahu, jalanan Mirasi bakal macet seperti dua tiga tahun lalu. Sebagai orang yang mukim di kawasan eks Kolonisasi-Mirasi, yang menjadi daerah incaran wisata di libur panjang, aku belajar dari orang Bandung mana kala menjelang Jumat hinggau Ahad petang:
     "Silakan kalian warga Jakarta datang bermacet-macetan ke Lembang, kami mah tos bosan, dan lebih nyaman menikmati hidup dengan majelis pengajian....".

     Agak siang, agak jenuh memandang angsa berenang dan tupai berlompatan riang, sembari memungut jatuhan durian di laman belakang, aku beranjak ke perpustakaan. Agak berdebu nan centang-perenang. Lalu kuambil sebuah novel di rak sudut yang kesepian.

        Kubuka serampangan, di akhir halaman, di paragraf yang pungkasan: "Langit memang mulai memerah di tepi lereng Pegunungan Kendeng. Senja akan segera turun!" Itu kata Umar Kayam dlm menutup novel Sang Priyayi, 1991. Dua puluh tahun yang lalu, ia berkarya. Dan hari ini aku membaca ulang karyanya. [*]

*) Muarabeliti, 2 Januari 2020
    

Kamis, 02 Januari 2020

GESAH BUDAYA

FILM HAYYA: MELEPAS KORTISOL & GUGUS ENDORFIN

Oleh: Hendy UP *)

       Seratusan menit menikmati Film Hayya, aku mengalami tiga hal: ejakulasi batin, permenungan jiwa dan pelepasan endorpin otak yang mangkal pada sirkuit kegembiraan. Aku tak tahu, apakah penonton lain termasuk Benny Arnas yang duduk di depanku meraih pengalaman yang sama?

      Entahlah! Sepuluh menit pertama, dalam kegelapan gedung Sinemaxx Lippo, penonton disuguhi adegan sedih. Keceriaan Hayya dan puluhan anak Palestin di Pasar Jabalia melambungkan rasa bersalah kita. Kegembiraan anak-anak kita di pedesaan, dari Muarabeliti, Jukung hingga dusun Selangit, adalah kegembiraan genuin yang tak terbeban kemungkinan tertembus peluru atau desing mesiu di atas ubunnya.

     Kerekatan gadis kecil Hayya dengan Rahmat selama di barak pengungsian, tiba-tiba harus ditetak jiwanya, karena Rahmat akan kembali ke Indonesia. Hayya kecil memberontak, tak terima. Inilah awal kisah yang membuat Hayya nekad masuk ke koper besar Rahmat ikut serta berlayar ke Indonesia. Memang episode yang ini agak melawan rasionalitas penonton.

       Tanpa sadar, ada kilatan bayang fotopsia menghalangi layar lebar. Aku menahan air bening yang menggelayuti kelopak mata, seakan sedang menderita ablasio retina; sejurus kemudian syaraf simpatetik mataku menegang, lalu melepaskan hormon kortisol. Dan jatuhlah lelehan air kesedihan itu! Sebaliknya, ada adegan kocak Adhin, berlari menyungging Hayya ketika menyelamatkannya dari kejaran Polisi.

     Ada hiruk-pikuk para 'Banci' yang menggelakkan beruyak-tawa. Penonton terpingkal-pingkal histeria! Background kampung kumuh dan "AWAS ANJING GALAK", mampu melupakan sejenak jejak keprihatinan nasib Hayya. Syaraf penonton dipaksa melepas endorfin dan memainkan sirkuit kegembiraan yang meluap-luap.

       Agaknya sutradara Jastis Arimba sangat mumpuni dalam menakar harmonik osilasi jiwa penonton, dan menghitung ujung amplitudonya: titik ekstrim syaraf jiwa-sedih dan titik ekstrim bahak- kegembiraan. Tentu saja, sutradara telah mengalkulasi potensi populasi penontonnya, yakni kaum milenial dan generasi-Z yang kini dominan dalam statistik demografi Indonesia.

        Kejelian sang sutradara Jastis niscaya selaras dengan kepiawaian produser Erik Yusuf bersama Helvy TR di bawah bendera Warna Pictures. Pasti bukan tanpa alasan ketika setting-place yang dipilih adalah Pasar Jabalia, Gaza Palestina dan kota Tasikmalaya Jawa Barat, dengan riak-dialek Priangan Timur yang agak vulgar dan kadang khas mendayu-dayu. Sungguh selaras, kompromi pemilihan para bintang yang pas dalam memerankan karakter yang dibangun penovelnya: Helvy dan Benny.

     Tokoh Rahmat Asyraf Pranaja (Fauzi Baadila) seorang jurnalis sang pendosa yang bersemangat menebus masa lalunya, mampu mengekspresikan kegelisahan dan irrasionalitas tindakannya. Sementara tokoh Hayya Qasim (Amna Hasanah Shahab) dipoles karakternya persis sebagaimana persepsi kita terhadap anak-anak Palestin yang full-traumatik, sarat bully dan nyaris kehilangan masa kanaknya karena direnggut Zionis super-biadab.

       Tokoh penting lain yang menyempurnakan multi adegan itu adalah: Adhin Abdul Hakim sebagai Adhin, sangat berhasil meluruhkan 'pembrontakan' jiwa Rahmat dan mampu menyuguhkan banyolan-intelek dalam kebersamaan peran di pelataran jihadnya. Bintang-bintang berbakat lain yang mendukung keberhasilan HAYYA ini adalah mereka yang terbukti mampu memerankan sekuel The Power of Love 2.

     Mereka adalah novelis Asma Nadia, Meyda Sefira, Ria Ricis, Humaidi Abas dan Hamas Syahid. Betapapun, film HAYYA adalah simbol kebangkitan ghiroh ummat dunia, beragama apa pun, yg masih peduli akan peri kemanusiaan dan peri keadilan demi mendukung eksistensi Bangsa Palestin. Lebih dari itu, bagi "Wong Linggau" novel dan film HAYYA adalah menjulang-tingginya bendera SILAMPARI yang bertajuk #JIHADBUDAYA. Yang menjulangkannya adalah seorang sarjana pertanian: BENNY ARNAS. Bukan yang lain! Allohu'
a'lam bishshowab.

*) Muarabeliti, September 24, 2019

Selasa, 31 Desember 2019

GESAH HUMANIORA

GESAH HUMANIORA:

AKU & SANDRA DI TAHUN 1982

Oleh: Hendy UP *)

      Tak lama setelah Ronald Reagan dilantik sebagai Presiden AS ke-40, aku dilantik pula. Tentu saja beritanya tak seviral pelantikannya pada 20 Januari 1981 itu. Jika sumpah Reagan diucapkan di tangga Gedung Capitol, maka aku cukup di gedung Balai Penyuluhan Pertanian, dan yang melantik cukup pejabat eselon dua be. Lagian level jabatanku agak ngambang: setingkat lebih tinggi di atas Gindo tapi wibawanya jauh-mauh di bawah Pesirah Kepala Marga. Hari bersejarah itu kucatat 2 Oktober 1982.

     Tapi jangan sepelekan yang satu ini: teritoriku setara 7 wilayah kecamatan sekarang, yakni Muarakelingi, Muaralakitan, Jayaloka, Megangsakti, BTS Ulu Cecar, Sukakarya dan Tuahnegeri. Dan jangan keliru pula, saat itu Camat adalah Penguasa Tunggal atas mandat UU No. 5 Th 1974: punya emblem-jengkol, dan bukan kepala OPD sang pengguna anggaran, yang konon lebih menyibukkan diri dalam menyiasati "financial-engineering" ketimbang mencermati dinamika sosial-ekonomi warganya.

     Okelah... biar tak berprasangka, jabatanku adalah CEO Balai Penyuluhan Pertanian. Lokus kantorku di Yudhakarya, 44 km dari Lubuklinggau. Jabatan itu tak bereselon, tak perlu Diklat SPAMA-SPAMEN, apatah lagi asessment jabatan dan fit and proper test. Dan hebatnya, tak ada tunjangan serta belum ada syarat "tidak terpapar radikalisme". Seandainya syarat terakhir itu ada, niscaya aku tak bakal dilantik, karena aku telah terpapar "ilmu radikal" sejak belajar anatomi dan morfologi tumbuhan. Tak bertunjangan jabatan tak apa, kan rizki insan dijamin Tuhan, Broth! He he he.

      Yang lebih menggembirakan lagi, aku ditemani Lik Mukiman sang Manager Kebun, yang profesional membelokkan hand traktor ketika mengolah lahan 32 hektar. Juga ada gudang alat dan hasil panen, yang belum berfungsi hingga aku mutasi, karena belum ada satu pun alat yang digudangkan. Untunglah aku membuat meja pingpong, dan itulah fungsi tambahan yang rutin kuamalkan.

     Karena kantor dan lahan yang luas itu terpisah dari pemukiman dan agak rawan penodongan, maka siang dan malam aku harus cerdas menyikapi keadaan. Menyiapkan senapan angin made in Cipacing Bandung kaliber 4, seperangkat petetan dan sekarung batu koral, belor akbar berbaterai enam, tombak-kujur plus pedang panjang; dan jangan lupa radio-tape dengan kabel antena khusus berbuluh tinggi.

     Kala santai di "petang-ahay" aku suka memutar lagu Barat yang melankolis nyaris mendayu-dayu. Aku tak terlalu paham artinya, tapi aku nikmati musiknya. Salah satu yang aku suka adalah lagu "I Had A Dream of Indonesia" yang dilantunkan Sandra Reimers. Sandra inilah kawan setiaku, tertutama jika istriku mudik ke Dusun Belitibaru.

    Suara Sandra lunak agak mendesah. Melodinya tanpa gejolak, seakan tanpa intensi perasaan. Datar mengalun tapi di ujungnya ada nuansa harapan. Pas buat pengantar bobo siang, setelah kenyang menyantap sambal macang. Tapi jangan coba-coba di putar di perkantoran menjelang dateline tahun anggaran. Bisa kacau-balau SPJ pertangungjawaban para pengguna anggaran!

      Apa yang kau impikan Sandra? Mungkin sebuah tempat: Indonesia yang penuh imaji, sebuah klise tentang surga. Mungkin Sandra tak pernah ke Indonesia, dan hanya membaca brosur wisata dari Kedutaan. Kata Sandra: "orang-orang seakan mendengarkan kearifan samudra. They never hurry, they never worry, they take the tide away the way it meant to be......". Luar biasa Indonesia itu: "ayem tentrem- loh jinawi".

       Jika ingat kenangan itu, aku tersenyum geli. Sandra yang suaranya merdu, ternyata tertipu. Brosur dan infogram yang dibacanya adalah iklan, bukan deskripsi antropologis. Bukan annual report dari Suistanable Development Goals (SDGs). Iklan, kata alumnus Desain Grafis, adalah hasil perkawinan silang 90% keinginan dan 10% kenyataan.

         Polesannya adalah kosa kata bombastis, propaganda dan ilusi. Indonesia, oh negeriku yang subur makmur! Lahan sawahmu telah tertimbun pemukiman. Air irigasimu terhenti di pintu besi kolam. Miris menyedihkan!

*)Muarabeliti, 15 Desember 2019

Sabtu, 28 Desember 2019

GESAH HUMANIORA

WESEL DARI LANGIT

Oleh: Hendy UP *)

      Alkisah, awal Juli 1992, di tengah kesibukan kantor Dinas Pertanian Rakyat Kab. Musirawas di Talangjawa Lubuklinggau, bergesahlah temanku Saeyono sembari menekan-nekan font mesin tik Oliveti yang berisik-misik. Orkestrasi ruangan semakin berantakan partiturnya, karena ditimpali suara kunyah gorengan ubikepar dan denting sendok-gelas kopi yang menggairahkan kerja.

     Gesah Saeyono itu tentang penyakit "aneh" yang diderita Mulyadi bin Kasimin di Desa Samberejo Curup Provinsi Bengkulu. Sayang, kala itu belum ada HP Android yang bisa memfoto objek apa pun, sehingga aku hanya menangkap tutur cerita dan mengimajikannya setara dengan daya elaboratif nalarku.

     Kata Yono, kaki kanan Mul bengkak sebesar ember karena "keseleo" saat main bola. Setelah berulang-ulang diurut dukun kampung, lalu berobat ke RS-DKT Lubuklinggau, namun bengkaknya tak kunjung kempes. Setelah terkuras uangnya, Pak Kasimin yang memang miskin, akhirnya "menggeletakkan" anaknya sembari menunggu keajaiban Tuhan. Pak Kasimin "pasrah-bongkokan" karena tak mampu lagi berikhtiar secara medikal yang berimbas ekonomik.

      Cerita Yono itu sungguh membuat aku berempatik, tapi aku tak bisa berkutik untuk membantu sepeser duit. Maka malam harinya, di tengah kesunyian dusun Muarabeliti, tergeraklah aku menulis artikel "humanistik" untuk Tempo. Kala itu memang aku jarang absen membaca majalah mingguan Tempo untuk melengkapi berita harian koran Kompas yang harga langganannya masih Rp 30 ribuan per bulan.

      Pada tgl 25 Juli 1992 tulisanku dimuat Majalah Tempo tentang penyakit aneh yang diderita Mulyadi. Kira-kira dua mingguan setelah artikelku di muat, datanglah wesel Rp. 30 ribu dari Tuan X di Jakarta untuk membantu pengobatan Mulyadi.

        Setelah kucairkan di kantor Pos bersama Saeyono si penutur cerita, aku pesankan agar amanah Tuan X ini segera disampaikan kepada Mulyadi di Curup, yang berjarak sekitar 40-an km dari Lubuklinggau. Beberapa hari kemudian bergegaslah Yono ke Curup. Namun apa nasib: sakit Mulyadi telah sembuh total, karena penyakitnya telah diangkat oleh Sang Maha Pemilik Penyakit beberapa hari sebelum wesel tiba. Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un!

      Gesah humaniora ini menyajikan  "ibroh" (pada era itu) tentang: sistem jaminan sosial-kesehatan oleh negara, kondisi kemiskinan akut masyarakat, dan kepedulian pemerintahan (lokal-regional-nasional) atas derita warganya.

     Ketiga aspek tersebut sudah banyak diseminarkan di hotel berbintang oleh para petinggi negeri, baik yang birokrat maupun teknokrat; bahkan dihadirkan pula para konglomerat yang siap peduli untuk "membantu" negeri ini dengan sistem "ekonomik-ribawi" jangka panjang, putik-bunga berlipat-lipat seperti perangai IMF, CGI dan konco-konconya.

      Okelah, itu soal klasik! Dan aku lebih tertarik untuk bergesah tentang aspek lain: semangat "solidaritas- spiritualnya". Tuan X di Jakarta, yang tergerak jiwanya utk mengirim wesel, agaknya orang yang terpilih oleh Malaikat untuk mewakili jutaan ummat-Nya bahwa masih ada keikhlasan yang rapat-rapat disembunyikan. Di masa kini, orang justru berlomba memamerkan kesalehannya setiap saat di status instagram dan WAG.

       Tuan X niscaya bukan orang yang baru belajar agama tentang bagaimana praktik berbagi. Akan tetapi sedang mengamalkan metode "berperang" melawan "keserakahan" ibukota Jakarta yang serba "ekonomik-ribawi" nan menuhankan dunia. Dan kini mulai "dilawan" oleh para "homo-spiritualis" baik dari kalangan Islam, Katholik, Hindu-Budha dan komunitas yang lain.

     Soal-soal kemanusiaan, sering kali berhimpit dengan himpunan lingkar keagamaan kita. Jika kita tak cerdas menyintesisnya, lalu tak bijak menyikapinya, niscaya kita terjebak dalam "perselisihan", bahkan menjurus kepada "pertengkaran teo-ideologis".

      Kasus kemanusiaan di Uighur dan dentum meriam yang meluluh-lantakan kawasan Allepo pagi tadi, sungguh bukan lagi persoalan agama. Tapi  telah melampaui jerajak teologia yang mengisyaratkan perlunya solidaritas-kemanusiaan. Allohu a'lam! [*]

*) Muarabeliti, 28 Desember 2019

Jumat, 13 Desember 2019

GESAH HUMANIORA

GELIAT KULTUR MASYARAKAT IBUKOTA MUARABELITI

Oleh: Hendy UP *)

      Antara tahun 2009-2012 aku diberi amanah oleh The Big-Bos sebagai Chief of SATPAM sebuah kantor OPD Pemda di Muarabeliti. Salah satu anak-buahku yang paling setia dalam mengamankan kantor siang-malam, namanya Yono. Bukan main Yono ini: fisiknya kekar-mekar, trengginas mengoperasikan 'lawn-mower' dan piawai menggoreng pisang lanang. Dan jangan sepelekan: dia pernah memiliki SIM B1-Umum di era reformasi, sehingga mampu mengejar RISAU sekencang dia meluncurkan truk gandeng 22 roda di Toll CIPALI.

    Kabarnya, Yono telah "menyatpami" kantor itu sejak tahun 2007, dua tahun sebelum aku di-SATPAM-kan di situ. Sekadar catatan, kantor Pemda yang muawal dibangun di Muarabeliti (2006) adalah: Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Dinas Pertanian yang ku-SATPAM-i.

      Konon, salah satu pertimbangan ditunjuk sebagai CEO-SATPAM di situ, karena aku pernah mukim di wilayah itu hampir 30 tahun; dan bertalian secara emosional-genealogis dengan warga dusun. Mungkin aku dianggap memahami lekuk topografi wilayah hamparan DAS Beliti, Kelingi, Satan, Temam, Kilan, Terap, Ululesing, Sekunyit, hingga ke Sungai Miyang dan Belua di ujung Durianremuk.

     Atau mungkin, aku dianggap cukup paham tentang sejarah dan dialektika "sosio-localpolitiko" sekitar ibukota yang "agropolis": dari jaman kemargaan Proatin Lima jauh sebelum De Meye menjabat Controleur Onderafdeling Musi Ulu tahun 1940-an hingga era "bedol-kantor" dari Tabapingin ke Muarabelitibaru.

    Alkisah, pagi itu pasca menjadi IRUP apel Senin, datanglah Yono tergopoh-gopoh: "Lapor nDan! Ahad petang kemarin, buah mangga dan lengkeng kita dipanen orang". Maksud Lu, dimaling?, tanyaku spontan. "Bukan dimaling nDan, dipanen orang! Aku kejar nDan! Mereka lari ke repuhan belakang. Tapi tiga anak-anak tanggung berhasil kuamankan", lapor Yono bersemangat, seakan ingin menunjukkan kredit point ke-SATPAM-annya, bahwa dia benar-benar layak mendapat anugrah medali "PRASETYA KARYA SEKURITAS".

      Lalu diapakan ketiga anak itu?, selidikku. "Terpaksa kulepas, nDan! Karena mereka beralasan bahwa kebon buah itu adalah Kebon Mang Endi. Aku khawatir mereka adalah keluarga Komandan dari Dusunbaru", jelas Yono. Aku tersenyum dan bersijingkat memeriksa setiap tegakan pohon. Yono menguntitku sembari mendeskripsikan ciri-miri anak Dusunbaru yang tertangkap.

     Bersiap hendak ke dusun menemui orangtua si pemanen buah itu, langkahku tersanggat, lantas sejenak bermenung-geli. Pertama, Yono tidak menyebut "dimaling", tetapi "dipanen-orang". Ia menggunakan diksi eufemisme-amelioratif dengan dua kemungkinan: utk menghormati aku jika benar mereka bertalian keluarga dengan istriku; atau memang Yono tak biasa mengoleksi kosa-kata bernuansa negatif-peyoratif.

     Kontras dengan kaum milenial kini yang acap menerakan "status dan serapah" nya di WA-Instagram dengan diksi kasar nan lebay. Jadi, Yono adalah prototipe SATPAM yang beradab. Bukankah "nur-keadaban" perilaku tidak hanya harus dipancarkan dari pejabat-petinggi atau orang suci?

     Kemudian aku lebih jauh bermenung kontemplatif. Begini: secara kultural, anak-anak warga "Dusun-Ibukota" belum merasa berada di kawasan ibukota, sebagai "enclave" dari wilayah dusunnya. Kawasan perkantoran masih dianggapnya sebagai "territorial-genealogis" dalam asas hukum adat nenek-moyangnya. Yakni, area tempat mereka "berayao- kume", sembari berburu: diyan, macang, rambay, nere, kemang, payang, kweni, putaran, lobi-lobi, tehung dan buahan lainnya.

      Maka kurang eloklah rasanya, jika SATPAM menangkap anak-anak dengan delik KUHP hanya karena "memanen" buahan di perkantoran. Memang, proses transisi kultural dari "klasik-kedusunan" ke "modernitas-milenial" memerlukan waktu panjang, karena menyangkut perubahan fondasi kebudayaan dan hukum.

     Ya, mirip gerakan pemikiran baru ketika menafsirkan "Philosophische Grondslag" dalam dialektika asas Pancasila. Yang niscaya masih akan panjang diperdebatkan. Allohu a'lam!

*) Muarabeliti, 12 Desember 2019.

Rabu, 27 November 2019

HUMANIORA

ORTOPHOSFAT: KANGEN REUNIAN

Oleh: Hendy UP *)

      Sebagai orang kampung nun jauh di Muarabeliti-Sumsel yang belajar ngelmu 'agro~psikologi', menganalogikan KANGEN itu mirip tumpukan unsur phosfor di dalam tanah. Kata Buckman, sang pakar tanah, hingga kiamat kurang dua hari pun, unsur phosfor itu tak akan bermanfaat, jika tak berbentuk senyawa ortophosfat.

       Katanya, bulu-bulu akar (radix pili) yang berujung pada epidermis folikular dalam anatomi flora, hanya akan mampu menjerap fosfor berkomposisi H2PO4 dalam ikatan ortophosfat.

        Sedangkan "REUNIAN" itu menyerupai sosio-teknologi modern sebagai ikhtiar pengutuhan kembali sebuah peradaban komunitas, kaum atau ummat yang pernah menyatu. Bukankah naluri kita selalu ingin menikmati masa lalu? Betapa pun konyolnya, gilanya? Sedihnya, senangnya?

      Karena kita yakin masa lalu mustahil hadir kembali, maka reaksi kita adalah menghadirkan memori masa lalu yang jauh. Mungkin jauh sekali! Sejarak Kampung Edensor di Inggris Utara hingga Kampungku Cimanggu di ujung Banyumas Barat. Yaa, semacam recollecting memories in the past!

        Masih meminjam istilah ilmu pertanahan; ketika momen reunian terjadi, hakekatnya adalah mengondisikan area tanah (yang menumpuk phosfor) kepada nuansa potensial-Hidrogen (pH) yang pas, sehingga terbentuk ortophosfat.

       Maka, unsur-unsur phosfor kerinduan itu meleburlah! Rasa kangen itu membuncahlah! Tawa-ria itu gelorakanlah! Tangis-rindu itu meledaklah! Airmata-syahdu itu melelehlah! Lalu dalam riuh-rendah yang membeliung kelenjar jiwa persahabatan itu, akan kembali tenang nan syahdu. Tanpa geriak nan hiruk-pikuk kekanak-kanakan lagi.

      Namun hati2, dan ingatlah: bahwa teman rindu kita yang berlainan jenis itu bukanlah mahrom kita. Stoppp.... berpelukan! Sesungging senyummu yang tulus dan gestur kerinduan yang tak bisa kita 'bikin-bikin', adalah lebih mulia ketimbang berpelukan erat bagaikan kaum tak beradab dan ketinggalan ta'lim!

      Cukuplah satukan telapak tangan, seperti "mojang Priangan" bersalaman, tanpa sentuh jemari tangan. Bagi yang sama-sama non-Muslim, silakanlah! Atau sesama jenis, monggo-kerso dendam berpelukan: sa'kuate, sa'karepe!

       Penentu titik ekuilibrium dalam momen reunian, boleh jadi postulat dan variabelnya multi ragam. Ada yang ingin mendaki bukit monumen kebersamaan: di ruang kelas, di kantin, di lapangan praktek traktor, di ruang sunyi laboratorium kimia. Atau bahkan ada yang ingin ketemu pacar lama yang tak berjodo. Ada belasan atau bahkan puluhan monumen-memorial yang momennya ingin terulang.

       Hanya sehari berkumpul, tentu ada pengelompokan kaum reunian. Secara alamiyah, gerombolan kelas dan tahun angkatan akan terbentuk. Pasti! Dalam waktu yang relatif pendek, kita tak mungkin menyapa semua. Ada semacam geometrika keakraban yang terpotong oleh garis lengkung yang lain. Sebutlah prioritas memorandum yang pernah terbangun dulu. Entah tentang apa, sepanjang rentang waktu yang menahun.

       Sependek memoriku, paling banter hanya mampu mengingat monumen wajah (dan perangai) teman sekelas yang akrab, teman sesekolah segang kos-kosan, adik kelas yang pernah diplonco dan berkesan, kakak kelas yang pernah berbaik hati. Selebihnya adalah teman alumni yang statusnya ibarat ketemu di ruang tunggu Bandara atau lapangan kampanye Pilkada. Tak saling kenal secara person-emosional.

        Sobatku sealumni, aku berharap kita dipertemukan di arena 'peleburan rindu' kelak. Kita akan menyatu dalam tungku panas peluruhan karat yang telah mewindu membelenggu jiwa. Setidaknya akan merasakan suasana lampau di sekitar Tugu Keresidenan, yang mungkin agak berlumut dan sedikit angkuh.

       PURWOKERTO ...oh Purwokerto! Kota rantauku 44 tahun lalu. Ada jutaan jejak kaki tlah tertimbun masa dan bau tetesan keringat menguyup baju seragam perjuangan!  Sobatku, jika niatku tak kesampaian ke Reunian kelak; karena berbagai kemungkinan, aku hanya mampu bergumam: "Someday you will know, that no one can love and miss you, as much as I do".

*) Blogger: www.andikatuan.net.
     [Muarabeliti, 3 Sept 2019].

Senin, 25 November 2019

POLITIK INFRASTRUKTUR

JERAMBAH NIUK

Oleh: Hendy UP *)

     Sejak awal November 2019 ini, alhamdulillah jembatan beton Tanahperiuk sudah fungsional walau belum berambu-lalin dan diresmikan Pak Gubernur Deru. Jembatan milik provinsi yang relatif pendek bentangnya namun panjang masa pengerjaannya itu, merupakan penghubung dua wilayah otonom, yakni Kab. Mura dan Kota Lubuklinggau. Rasanya hampir tiga tahun, besi gelagar itu "nyelonjor-bedegang" terlunta-lunta nan mengenaskan jiwa.

     Lambannya pembangunan Jerambah Niuk itu, kabarnya disebabkan negosiasi alot antara pemilik tanah warga Dusun Niuk dengan Pemerintah Provinsi Sumsel. Jerambah ini berada di jalan provinsi yg berpangkal di Simpangperiuk (Lubuklinggau) lalu meliuk membelah kawasan Tugumulyo (eks Kolonisasi), nyambung ke kawasan Kec.  Sumberharta hingga di Simpangterawas sepanjang lebih kurang 22 kilometer.

      Sebutan "JERAMBAH NIUK" itu adalah bahasa Lembak Silampari, yang bermakna Jembatan Tanahperiuk. Apakah kosa-kata 'jerambah' ada kaitan dengan bahasa Belanda "de brug" (jembatan) yang mengalami perubahan gramatikal-fonetik seperti halnya "Buitenzorg" yang berubah menjadi Bogor? Wallohu a'lam!

     Arkian, dahulu kala Jerambah Niuk itu berupa jembatan gantung yang dibangun Belanda seiring dibukanya Kolonisasi Toegoemoeljo antara 1937-1940; dan paralel dengan masa pembangunan Watervang 1939-1941. Menurut para orangtua (saksi sejarah), jerambah gantung itu posisinya persis di jembatan baru sekarang ini.

       Konstruksi gantungannya menggunakan 'baja seling' dan lantai papan, sedikit 'beguyang-guyang' dan bisa dilalui mobil kecil untuk mengangkut material dan hasil bumi dari dan menuju kawasan Kolonisasi Toegoemoeljo. Sekitar tahun 1960-1962 jerambah gantung itu pernah putus (Biografi Bupati Ibnu Amin, 2005, hal. 24). Menurut mBah Keling warga Kartomas (77 thn) yang pernah ikut menjadi kuli bangunan Jerambah Niuk, jembatan lama (kini masih fungsional) dibangun pada tahun 1971 hingga 1972. Persis serempak dengan Jembatan Musi Tebingtinggi, yang berjajar dengan jembatan rel Kereta Api sekarang.

      Di tengah masa pengerjaan jerambah Niuk lama, pernah terjadi banjir-bandang Kelingi, sehingga tiang dan gelagar penyangga sementaranya hanyut-lanyut berantakan. Maka terjadi hambatan teknis beberapa pekan, karena mengganti tiang penyangga baru dari batang kelapa berikut kawat behel pengikatnya. Material tanah timbunan untuk oprit abutment jembatan diambil dari lahan warga, dengan harga angkut borongan seringgit (Rp 2,50) per kubik galian tegak. Konon, pemborongnya berasal luar daerah, mungkin dari Jawa dengan manajer lapangannya bernama Prajitno.

      Namun sayang, kokohnya Jerambah Niuk yang baru ini belum didukung oleh pelebaran jalan yang memadai, baik dari arah Simpangpriuk maupun dari Siringagung khususnya sepanjang Dusun Niuk. Kita maklum, bahwa jalan milik provinsi itu dirancang sekitar 80 tahun yang lalu. Untuk pelebaran jalan sepanjang Dusun Niuk memang agak problematik. Ongkos sosialnya cukup tinggi, khususnya terkait dengan prosesi Pilkada Gub/Bupati yang seringkali berdampak nyata terhadap elektabilitas para kandidat, jika dianggap bertentangan dengan hak msyarakat pemilih.

       Satu-satunya alternatif adalah membuka ulang dokumen perencanaan jalan provinsi, yang dulu pernah digagas membuat jalur alternatif: yakni dari Bundaran Agropolitan Muarabeliti - Kampung Bali - Airsatan - terus 'shortcut' ke Jalan Baru Siringagung (via persawahan), menuju Petanang melalui "Jalur Simpanglima Sirgung" yang kini masih berjolok "SIMPANGBINGUNG".

       Ini sekadar pikiran liar-liur nan sedikit ngawur. Allohu'alam bishawab!

     *) Blogger: www.andikatuan.net    [Muarabeliti, 25 November 2019]

HUMANIORA

KARTOMAS: DELINKUEN & NARKOBA?

Oleh: Hendy UP *)

      Kartomas adalah nama sebuah jalan. Merujuk ke UU No. 38 Tahun 2004 juncto PP No. 34 Thn 2006 tentang Jalan, mungkin berstatus jalan desa. Sedangkan menurut UU No. 22 Tahun 2009 ttg LLAJR, mungkin berkelas II dengan muatan sumbu maksimal 8 ton. Karena proses simplikasi "penjolokan bahasa", nama jalan itu kini berubah menjadi nama kampung.

    Secara administratif pemerintahan, kampung Kartomas merupakan tlatah RT 03, Kelurahan Karangketuan Kec. Lubuklinggau Selatan II, di wilayah Kota Lubuklinggau yang berada di ujung Barat Laut Provinsi Sumatera Selatan.

     Dua puluh tahun yang lalu, kampung Kartomas yang dulu disebut Talangdarat - Lubuktube sungguh terasa nyaman, asri nan aman. Di pagi buta, kanal irigasi sekunder menuju Airlesing yang dibangun tahun 1971-1972 itu, airnya bening nir-sampah dan menghanyutkan keberkahan bagi kemakmuran Masyarakat Tani di wilayah hilirnya. Barangkali itulah nilai gagasan moral-ideologisnya ketika Van Deventer meluncurkan tagline "Edukasi-Imigrasi-Irigasi" terlepas dari konteks "balas jasa" atas kekejaman Kolonialis negerinya.

     Atau barang pasti, sebuah obsesi Sang Pangeran Amin Ratoe Asmaraningrat (Pesirah Proatin V), ketika "berduel-argumentasi" dengan Controleur Onderafdeling Musi Ulu untuk membangun jaringan irigasi di luar Kolonisasi Toegoemuljo di tahun 1935/1936. Sekadar catatan, 20 desa Kolones yang dibentuk tahun 1937 hingga 1940 semuanya berada di wilayah Marga Proatin V (Disertasi KJ Pelzer, 1945).

       Tapi hari-hari ini, jika di pagi buta kita mengamati aliran irigasi, sungguh sangat memrihatinkan: aneka koloni sampah berarak, berbuntal plastik dan kardus tersanggat-sanggat di jembatan usahatani, mengalir entah kemana! Betapa masyarakat masih rendah kesadarannya akan kebersihan lingkungan. Subhanalloh...!

     Tapi ada yg lebih menggusarkan jiwa. Kondisi ekonomi masyarakat Kartomas yang mayoritas penggarap sawah, buruh tani dan kerja srabutan, melahirkan "generasi delinkuen" yang diformat lingkungan tak sehat seperti sabu, narkoba dan sejenisnya.

      Secara sosiologis, Dilinkuen adalah sebuah kondisi penyimpangan dan/atau penyelewengan perilaku remaja akibat kurangnya pengasuhan orangtua dan berbasis ketakharmonisan keluarga. Pada galibnya, faktor kemiskinan dan rendahnya pendidikan (dan agama) adalah pangkalnya. Dan gejala ini agaknya terjadi tidak hanya di kawasan Kartomas, namun gejala umum di semua kawasan.

     Meminjam istilah sosiologis, bahwa motif penyimpangan sikap remaja, baik yang tunggal maupun yang gabungan, bisa bersifat: biogenetis, sosiogenetis atau bahkan teogenetis. Utk kasus delinkuen Kartomas - yang terbentuk antara tahun 1990-an hingga 2000-an - agaknya lebih akibat gabungan aspek sosiogenetis dan teogenetis. Sebagai studi kasus, Pemerintah (dan Pemkot Lubuklinggau) bisa memperdalamnya dengan metode survei sederhana atau metode kajian lain yang kredibel.

      Banyaknya anak putus sekolah dan/atau tamatan SD-SMP-SMA (tanpa keterampilan) di tengah sulitnya lapangan kerja serta status delinkuen para remaja, menjadikan warga Kartomas gusar oleh kejadian pencurian dalam tiga tahun terakhir ini; baik siang hari, apatah lagi malam hari.

       Dari perilaku mereka, menguatkan dugaan bahwa pengaruh narkoba telah berdampak akut atas kasus: maling motor, ayam, pisang, kelapa, mesin air, paralon kolam, fasilitas masjid, seng pondok di sawah atau apa saja yang bisa ditampung oleh penadah entah di mana.

     Duit hasil curian, dibelanjakan utk: narkoba, rokok, minuman dan pulsa. Mayoritas warga gusar, Pak RT 03 sangat kesal dan Lurah hanya terima laporan. Beberapa kali warga lapor ke Polsek atas rekom RT, namun hanya memperbanyak dokumen pelaporan saja. Ikhtiar POLSEK utk membekuk oknum maling tak pernah terdengar beritanya, apatah lagi hasil buruannya.

      Kartomas... oh Kartomas, nasibmu semakin  merisaukan, karena para penghuni remajanya banyak yang berprofesi sebagai "RISAU". Wallohu a'lam bi shawwab!

*) Muarabeliti, 25 November 2019.

Blogger: www.andikatuan.net

Selasa, 29 Oktober 2019

POLITIK PANGAN

IRIGASI AIR RAWAS: QUO VADIS? (2)

Oleh: Hendy UP *)

      Pasca-terbentuknya DOB Muratara, Bupati Musirawas bersurat kepada Penjabat Bupati Muratara, bahwa demi keberlanjutan program ketahanan dan kemandirian pangan nasional (khususnya beras) Proyek Irigasi Air Rawas perlu dilanjutkan.

      Surat bertanggal 26 Februari 2014 itu juga menginformasikan bahwa pada tahun 2013 Pemda Mura telah menganggarkan Rp. 10 milyar untuk pembebasan lahan tapak bendung perangkap air (watervang). Namun, karena bersamaan terbitnya Perppres No. 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah utk Kepentingan Umum; dan menunggu aturan teknikalitasnya (sebagai derivat atas UU No. 2 Tahun 2012), maka kegiatan tersebut tidak bisa dilaksanakan.

     Berdasarkan dokumen Studi Kelayakan (FS) Air Rawas, keperluan tanah untuk tapak bendung dan jaringan pendukungnya diperlukan lahan seluas lk. 141,73 hektar yang berada di Desa Sungaibaung dan Pulaulebar dan beberapa desa di holirnya. Untuk proses pembebasan lahan tersebut telah terbit Kpts. Gubernur Sumsel No. 714/Kpts/I/2013 tentang Pendelegasian Kewenangan Pelaks. Persiapan Pengadaan Tanah Kepada Bupati Mura. Namun lagi-lagi terbentur aturan teknis dari Pusat yang belum terbit.

     Selain Desa Sungaibaung dan Pulaulebar yang menjadi lokasi bendung, beberapa desa lainnya yang potensial terdampak pembangunan jaringan irigasi dan percetakan sawah adalah: Kertadewa, Sungaijauh, Sungaikijang, Remban, Lesungbatu, Lesungbatumuda, Surolangun, Lawangagung, Karangwaru, Simpangnibung, Sungailanang, Lubukkemang, Karanganyar, Kertasari, Rantaukadam, Karangdapo, Biarolamo, Aringin, Binginteluk, Beringinsakti dan Desa Tanjungraja.

     Untuk membangun partisipasi masyarakat yang akan terdampak pembangunan irigasi, tentunya memerlukan strategi multi-aspek yang bijak-bestari, transparansi dan kejujuran dengan aneka pendekatan yang 'mahasabar' dari aparatur Pemda. Jaringan urat sabar perlu lebih dilenturkan dan dua daun kuping wajib diperlebar.

     Akan tetapi, belajar dari pengalaman penerapan teknologi baru di bidang apapun (sosial-teknikal-manajerial), khususnya dari kultur berkebun dan model usahatani ekstraktif lainnya ke sistem persawahan 'padat kerja', diperlukan waktu lama dan percontohan usahatani yang nyata nan realistis. Perubahan jarak psikologi-kultural dari tradisional ke semi modern, modern dan post modern, niscaya perlu panduan dan mentor terus-menerus dari Pemerintah dan tak kenal lelah.

      Apapun cerita perjuangannya kelak dan sikap antisipasif untuk mewujudkan Proyek Irigasi Air Rawas, yang jelas para Birokrat dan Teknokrat Negeri ini, baik di Pusat, Provinsi, Kabupaten dan ke bawahnya, harus diniatkan untuk ibadah.

     Bukankah kata al-mukarrom UAS dan UAH menjadi Pejabat itu akan berpeluang memperoleh pahala (dan bonusnya) untuk cepat lolos ke Surga dari pintu mana pun? Allohu'alam. Semoga saja! [*]

Muarabeliti, Oktober 29, 2019.

*)Blogger: www.andikatuan.net