Kamis, 16 Januari 2020

SERIAL KRONIK LITERASI

DOKTER DJAWA ITU SETARA SMP SEKARANG

Oleh: Hendy UP *)

     Alkisah, awalnya otoritas VOC tidak mengontrol persoalan religio pribumi Nusantara termasuk institusi pendidikan tradisionalnya, khususnya pesantren.

     Selama hampir 200 tahun (1602-1800) VOC bercokol, ada semacam arogansi-superioritas yang diyakini bahwa dalam kamus evolusi modernisme yang mereka anut: jika masyarakat modern pasang, maka kepercayaan dan ketaatan terhadap agama akan surut (Yudi Latif, 2011).

      Namun demikian, ketika terjadi pergeseran ideologi Eropa dengan munculnya pertentangan antara pandangan sekuler di Belanda dengan hasrat Kolonial untuk meredam perlawanan sporadis pribumi yang berbasis agama, maka dimulailah gerakan 'religiosasi' ruang publik. Pada tahun 1664, VOC membatasi perjalanan pribumi untuk berhaji ke Makkah.

        Ketika upaya memberangus perlawanan pribumi yang dimotori Pesantren tidak berhasil, maka pasca- VOC dibubarkan (31 Desember 1799) serta merta Gubernur Jenderal HW Daendels menerbitkan Dekrit (1810) yang membatasi bepergian para ulama walau hanya di dalam wilayah Nusantara.

     Tonggak penting perubahan politik-pendidikan era Kolonial, berawal dari kemenangan rezim Liberal di Belanda pada tahun 1848. Ruang publik sekuler mulai terbangun di Nusantara, yang menjelmakan antara lain: institusi sekolah, lembaga penelitian, pers vernakular dan pelbagai penerbitan (print capitalism).

       Guna mendukung liberalisasi ekonomi-industri yang 'modern' di Nusantara dan memperbesar pundi-pundi kolonial, maka diperluaslah layanan birokrasi sipil untuk pribumi dan kolonial. Sedari awal disadari, bahwa gerakan pendidikan ini bersifat dilematis yang bisa menggerogoti superioritas kolonial dan berujung pada gerakan masif nasionalisme pribumi.

     Maka disusunlah desain pendidikan yang berprinsip segregatif-etnik dan hierarkis-status yang anti-asimilasi, elitis dan dualistik. Desain ini terutama dirancang oleh Snouck Hurgronye, dan agaknya mengukuhkan kesan untuk menghadang hegemoni pesantren dan gerakan tarekat sebagai Gerakan Pan-Islamisme Pribumi.

     Menurut catatan sejarawan Sartono Kartodirdjo (1984) dalam buku "Pembrontakan Petani Banten 1888" setidaknya terdapat 300-an Pesantren yang terkenal kala itu, antara lain: Pesantren Lengkon dan Punjul di Cirebon, Dayeuhluhur di Tegal, Brangkal di Bagelen, Tegalsari dan Banjarsari di Madiun, dan Sidacerma di Surabaya.

     Pada tahun 1818 mulailah dibangun model pendidikan di Nusantara. Mula-mula didirikan ELS (Europesche Lager School) untuk anak-anak kolonial; dan sedikit anak bangsawan pribumi (anak raja). Untuk etnis Cina dibangun HCS (Hollandsch Chinese School), dan etnis Ambon adalah satu-satunya yang diberi keistimewaan dengan dibentuknya ABS (Ambonsche Burger School) atas loyalitas tingginya kepada Kolonial Belanda (AM Suryanegara, 2015).

      Pada tahun 1907, barulah didirikan sekolah untuk pribumi Islam dengan 3 tahapan dan kejuruan, yaitu: Lager Onderwijs (rendah), Muddelbaar Onderwijs (lanjutan), Hooger Onderwijs (tinggi), dan Vokonderwijs (kejuruan). Khusus sekolah rendah terdiri 6 model. Menurut Soemarsono (1986) dalam buku "Pendidikan di Indonesia dari Jaman ke Jaman", ke-enam LO itu adalah: (1) Indische School/Sekolah India 5 th, (2) Volk School/Sekolah Desa 3 th, (3) Vervolg School/Sekolah Rendah 2 th, (4) Schakel School/Sekolah Peralihan 5 th, (5) Hollanch Indische School/Sekolah India Belanda 6 thn, dan (6) Hoofden School (Sekolah Raja).

      Selanjutnya, untuk memenuhi tenaga kerja di perkebunan, didirikan Middle Onderwijs (menengah) yakni Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), dan Algemeene Middelbaare School (AMS) setingkat SLTA. Di sektor kesehatan, pada tahun 1902 didirikan School Tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA). Muridnya berasal dari lulusan SR 5 thn, lama studi 3 tahun dengan gelar Dokter Djawa.

      Pada tahun 1913, diubah menjadi Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), muridnya lulusan MULO dengan masa studi 7 tahun; dan gelarnya diubah menjadi Indische Artsen.

*) Muarabeliti, 16 Des 2020