Senin, 15 Juni 2020

RAMALAN JAYABAYA (1)

A. PENGANTAR

      Dalam khasanah kebudayaan dan perpolitikan Jawa, nama Jayabaya agaknya telah menjadi referensi utama dalam hal-ihwal peramalan, prediksi dan "penjangkaan" masa depan Bumi Indonesia, yang dahulu disebut Nusantara.

     Bahkan para pujangga (ahli sastra) sekaliber Yosodipuro I dan Ki Ronggo Warsito yg hidup beberapa abad kemudian - entah sengaja atau tidak - menjadikan jangka Jayabaya sebagai rujukan dalam menyusun karya-karya sastra monumentalnya.

     Ketokohan Jayabaya menjadi legendaris nan bertuah, khususnya bagi kalangan penganut "dunia-dalam", "kejawen" dan penganut Aliran Kepercayaan dan/atau Kapitayan yang masih hidup di pedalaman Jawa; dan beberapa aspek ritual "kejawen" masih tampak pada komunitas lingkar eks Keraton Jawa.

     Karya agung Jayabaya yang berupa KITAB RAMALAN, di era kini barangkali bisa disebut sebagai karya "meta-ilmiah" dari seorang Futurolog Nusantara, jauh sebelum hiruk-pikuk teknologi IT beredar di tengah kehidupan masyarakat dunia. Namanya bisa disejajarkan dengan: John Naisbitt (Megatrend 2000), Alvin Toffler (The Third Wave), Kenichi Ohmae (The Borderless World), Francis Fukuyama (The End of Ideology).

    Atau bahkan secara konten ramalan bisa pula disejajarkan dengan pakar demokrasi-politik Samuel Huntington (1993) dengan karya monumentalnya: "The Third Wave: Democratization in the Late 20th Century", yang mengurai proses kelindan demokratisasi di kawasan Amerika-Latin dan Asia-Pasifik.

     Berbeda dengan kelima futurolog asing di abad kini tersebut, dalam menyusun dokumen ramalan-visionernya, niscaya Jayabaya tidak melandaskannya pada data empiris yang ilmiah. Akan tetapi lebih mengandalkan kemampuan metafisik yang diterobos oleh mata batinnya dengan penuh kehati-hatian dan ruh-kebijakan berpikir.

     Tentu saja, kepiawaian dan kekhusyukan serta pengalaman batin (linuwih) Prabu Jayabaya tidak dimiliki oleh manusia kebanyakan kala itu. Untuk menjaga kehati-hatian dan kebijakannya menentukan koridor masa depan bangsa Nusantara, Raja Jawa abad XII itu menggunakan sastra "surat sanepa" (ungkapan penuh perlambang) yang memerlukan kecerdasan tafsir dan konsistensi konteks antara masa lalu dan masa kini demi prediksi masa depan.

     Bahwa ada sementara kalangan yg menganggap kebenaran ramalan Jayabaya sebagai suatu kebetulan (koinsidensi) belaka, atau klenik-nujum dan sejenisnya adalah wajar dan sangat lazim dalam dunia keilmuan. Terlepas dari kontroversinya, tokoh Jayabaya adalah merupakan aset kebudayaan (dan keilmuan) serta fakta sejarah kuno Nusantara; bukan tokoh mitos-kejawen atau hayalan semata.

      Eksistensi dalam sejarah Nusantara belum terbantahkan hingga era milenial kini. Bahkan dari sisi kecerdasan spritual-ilmiah, Jayabaya bisa dikategorikan sebagai FUTUROLOG SEJATI yang belum tertandingi di jamannya. Kita yang hidup di abad ini, banyak nian menyaksikan aneka peristiwa yang telah diprediksi Jayabaya jauh sebelum ilmu forcesting dikembangkan oleh ilmu statistika terapan; yang margin errornya suka-suka researcher dan validitas datanya direkayasa sponsorship. [*]

                                      [Bersambung]

Muarabeliti, 6 Juni 2020

*) Tulisan ini diresume dari: (1) RAMALAN JAYABAYA" (Bagian Akhir), INDONESIA MASA LAMPAU, MASA KINI DAN MASA DEPAN. Diedit oleh Suwidi Tono: Cetakan III Agustus 2006, Penerbit Vision03, 56 hal; (2) GELOMBANG KETIGA INDONESIA, Peta Jalan Menuju Masa Depan, karya Anis Matta. Penerbit Sierra & The Future Institut, Cet ke-1, 2014, 128 hal.