Sabtu, 09 Februari 2019

BELAJAR DARI KADES JOKO


Berkah dana desa yang ratusan juta tidak otomatis memandirikan warganya. Perlu sentuhan kreativitas, kejujuran, kerja keras dan kesungguhan sang "raja desa" yang diserahi kewenangan melalui UU Desa dan aturan derivasinya sebagai pedoman teknikalitas di lapangan.


Adalah Joko Silama, Kades Pakowabunta, Kec. Nuhon, Kab. Luwukbanggai Sulteng dengan kepiawaiannya mampu menggugah 'tidur lelap' warganya sembari mengubah 'mind set' kedusunannya memasuki dunia persaingan melalui sentuhan keteladan Sang Kades. Da'wah ekonominya dimulai dari rumah ibadah: masjid desa.

Malam itu, segera setelah dilantik sebagai Kades, ba'da shalat Isya berjamaah, Pak Kades berdiri mengumumkan bahwa seluruh warganya bergotong~royong  meratakan timbunan lahan masjid. Dan 'Sang Raja' terjun duluan memimpin kerja bakti. Usai gotong~royong malam itu, Kades Joko berkeliling ke dusun~dusun utk memastikan kondisi warganya: yang nelayan pesisir pantai, yang beternak sapi~kambing hingga yang bertani kebun kelapa dan hortikultura. 

Ia pun gusar atas predikat desanya yang senantiasa 'berkonflik~bebuyutan' dengan desa~desa tetangga. Masyarakatnya yang berkarakter 'keras' sebagaimana perangai warga pesisir pada umunya, secara perlahan ia da'wahi dengan penuh kelembutan nurani. Tak bosan~bosan...!  Dan hasilnya, tiga tahun menjabat Kades, ia terpilih menjadi Kades terbaik se Sulteng. 

Kades Joko adalah mantan Penyuluh Pertanian Swadaya: bisa ketua Taruna Tani, Kontak Tani atau pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan(KTNA). Atas ketekunan dan kegigihannya berkiprah di pertanian, ia pernah 'magang tani' di Jepang. 

RPJM~Desanya sangat sederhana, 'to the point', tidak muluk~muluk tapi menukik kepada realitas lapangan. "Ini memang kerja berat, tapi kalau saya hanya sekedar omongan (teori) dan tidak dibarengi kerja keras, keteladanan dan doa, maka akan sangat sulit...", begitu keyakinan Kades Joko suatu waktu.

Dengan kecerdasan dan keyakinannya, yang pertama ia lakukan adalah memetakan aneka persoalan: terutama model pemberdayaan masyarakat. Da'wah ekonomik~kulturalnya dibangun dari masjid. Mula~mula memetakan problem ekonomi dengan cara menyusun kluster dengan prioritas berdasarkan kemampuan SDM dan dominasi sektor. Dana desa dimanfaatkan sesuai dengan pedoman PP No. 43 Tahun 2014; dan selalu istiqomah dengan aturan yang ada. Kebijakan yang diambil selalu dimusyawarahkan dengan BPD dan tokoh masyarakat.


Para petambak ikan difasilitasi dengan pembangunan areal empang seluas 15 hektar yang melibatkan 64 kk sebagai sarana usaha pokoknya. Yang beternak kambing dan sapi ia modali sapi dan kambing berikut pembinaan teknisnya. 

Khusus untuk para 'emak~emak' dilibatkan dalam proses pembuatan arang tempurung kelapa yang selama ini berserakan menyampah dan belum pernah dimanfaatkan menjadi sumber penghasilan keluarga. Ibu~ibu yang lain dibekali keterampilan membuat industri rumahan keripik pisang dan 'stik tulang ikan' yang, kemudian  justeru menjadi juara dan menjadi pavorit dalam lomba PKK se Kab. Luwukbanggai. Bahkan Kades Joko dan Timnya pernah belajar keterampilan 'olah~mengolah' pasca panen ikan ke Palembang.

Kades Joko memang tidak hanya cerdas dan sabar, tapi lebih dari itu. Yang dia kerjakan adalah ketulusan~kejujuran dan kerja keras tak henti~henti. Keteladanan dan kreativitasnya yang dibarengi doa tulusnya itulah yang senantiasa tak kekurangan ide untuk membangun kemandirian warganya. Karakter inilah yang menjadi 'branding' Kades Joko Silama.

Saya tidak sedang menganjurkan agar para Kades di Musirawas, Muratara atau Empatlawang dan Rejanglebong untuk studi banding ke Kades Joko. Karena seberapa pun sering para Kades studi banding ke daerah maju, pada akhirnya kembali kepada karakter dasar para Kades. Kades Joko adalah 'inspiring to build our dusun'.  Allohua'lam bishowab. [Disarikan dari: http://www.hidayatullah.com].

MENGGALI UNTUK SESUAP NASI


Jika hari~hari ini melintasi jalan raya Tugumulyo~Megangsakti, khususnya sekitaran SPBU Trikoyo, Anda akan menyaksikan 'rombongan' penggali kabel  raksasa oranye milik PT. Indosat.

Gambar: Anto dan Abi,  buruh pasang kabel Indosat di depan SPBU Trikoyo [4 Feb 2019].

Adalah Anto, Abi, Harun, Sakib dan tigapuluhan temannya yang mendapat 'kontrak kerja'  pembangunan jaringan kabel PT. Indosat. Kontrak memasang kabel sepanjang 25 km dari Srikaton ke Megangsakti. Mereka tiba pada 1 Januari 2019 lalu dan menetap di P2. Purwodadi menyewa rumah di dekat kantor desa.

Abi~Anto dan kawan~kawannya adalah perantau yg telah malang melintang dalam hal gali~menggali pinggiran jalan raya utk memasang kabel jaringan: Telkomsel, Indosat, Muratel dll. Mereka pernah menggali di seantero Nusantara dari Aceh hingga Flores NTT. Mengitari Sulawesi ~ Batam hingga Kalimantan.

Rupanya profesi 'menggali' jalanan utk memasang jaringan kabel ini ditekuni oleh warga Kecamatan Banjarharjo Kabupaten Brebes, khususnya desa Tegalreja. 

Ketika pada Senin siang  4 Feb 2019, saya wawancara dg mereka tentang upah kerja, dengan semburat sedih~memilu mengatakan bahwa upah per meter penggalian dan pemasangan kabel itu Rp. 11 ribu plus uang makan Rp. 50 ribu. Sehari bisa memasang sekitar 20 meter maju. Jadi perolehan kotor per hari 200 ribuan. "Yaa... bersihnya 100 ribuan, Pak", kata Abi memelas. Kalau penggalian ketemu batu atau akar kayu itu risiko sendiri dan pasti akan mengurangi pendapatan. Mereka kerja rata2 berpasangan dua orang. 

"Kami bekerja menggali ini sudah sejak tahun 2007~an. Pulang ke kampung menemui anak istri paling cepat dua bulan sekali. Di rumah paling lama semingguan", sambung Abi sambil memungut bongkahan tanah di lobang sedalam hampir dua meter berlumpur.


Gambaran kehidupan pekerja musiman itu menunjukkan bahwa lapangan kerja kini sedemikian sulit dengan upah yg rendah. Ketidakmampuan bersaing dalam merebut lapangan kerja yg 'lebih layak' adalah faktor un~skill pada mayoritas penduduk perdesaan. Di sektor industri mereka tak dikehendaki, sementara di sektor tani mereka tak punya lahan (dan modal). Maka, kita hanya berharap ada kebijakan Pemerintah RI yang mampu berfikir cerdas untuk menghalau 'kedunguan massal'. Allohua'lam...!!