Catatan: Hendy UP *]
[1] Namanya Karangkandri. Satu kata duabelas huruf. Itulah tanah tumpah darahku. Jika Anda menerbangkan drone semisal hexacopter, lalu memutari kampungku dan hovering sejenak di atas rumahku, maka akan mencatat posisi hamparan kampungku berada pada koordinat antara 7°19' 4" LS dan 108° 50' 35" BT.
Posisi koordinat itulah yang membedakan tempat senama (Karangkandri) yang mungkin berada di belahan bumi lain. Sebutlah desa senama di Kec. Kesugihan, Kab. Cilacap, atau dimana pun saja orang suka-suka menamakan kampungnya. Tapi ini Karangkandri kampungku, berjarak sekitar dua kilometeran ke selatan, dari Balai Desa Cimanggu, Kec. Cimanggu Kab. Cilacap Jawa Tengah.
[2] Di belakang kampungku, mengalir sungai Cikawung yang menjadi pembatas dengan Kecamatan Cipari. Sebuah kecamatan di Kabupaten Cilacap yang tahun 1960 hingga 1970-an hamparan buminya didominasi areal perkebunan karet milik BUMN, yang dahulu dikenal dengan sebutan Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) Carui.
Sungai Cikawung ini berhulu di celah-celah perbukitan yang berada di wilayah Kec. Karangpucung; dan nun jauh di hilirnya, bertemu dengan sungai besar Citanduy yang menjadi pemisah wilayah Jawa Barat & Jawa Tengah.
Karangpucung adalah tetangga kecamatanku di sebelah timur, mengarah ke kota Cilacap dan Purwokerto. Jika ditelusuri jejaknya, perbukitan ini merupakan rangkaian pegunungan Maruyung dan anak-anaknya yang sambung- menyambung hingga bersimpuh di kaki Gunung Slamet, gunung terbesar di pulau Jawa.
[3] Balai Desa Cimanggu berada di jalur Jalan Raya Nasional Selatan (JRNS) yang menghubungkan kota-kota di Jawa bagian Selatan. Jika Anda berkendara dari Bandung hendak menuju Yogya, maka lazimnya akan melintasi kota-kota: Tasikmalaya~Ciamis~ Banjar~ Majenang~Cimanggu~ Karangpucung~Wangon~ Purwokerto~Kebumen~Purworejo ~ Kutoarjo ~ barulah Yogyakarta.
[4] Dalam kajian etnolinguistik, di Jawa, nama desa yang berawalan kata "karang", konon adalah salah satu yang terkategorikan nama purba yang sering dilekatkan dengan jejak arkeologis kerajaan kuno hingga dunia perwayangan. Sebagai contoh Dukuh Karangkadempel (kini nama sebuah Ponpes) di wilayah Madiun yang konon terafiliasi dengan perguruan kuno di era yang sangat jauh.
Generasi tua niscaya faham bahwa Dukuh Karangkadempel adalah alamat tinggal tokoh legendaris Punokawan yang disimbolkan oleh tokoh Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Termasuk para pengikut loyalnya yang berstatus murid & pembantunya yang lazim disebut: Cantrik, Jejanggan, Cekel, Puthut, Manguyu & Uluguntung.
[5] Secara etimologis, Karangkandri berasal dari kata "karang" dan "kandri". Karang bermakna: tempat tinggal/kediaman atau hamparan lahan yang berada di sekirar permukiman. Sedangkan "kandri" adalah sejenis tumbuhan herbal multifungsi yang kini terbilang langka. Bahasa Latinnya Bridelia monoica. Daunnya bisa untuk mengobati luka luar, panas dalam dan yang unik adalah sebagai penangkal petir.
Menurut orang-orang tua dulu, dari keyakinan & pengalamannya, konon cabang & daun kandri bisa menghela sambaran petir di tengah sawah. Mungkin akar kandri yang menghujam ke dalam tanah mampu menetralisir unsur listrik yang bisa menyambar kapan saja. Tanaman ini memiliki sebutan yang berbeda-beda di lain daerah. Masyarakat Sunda menyebutnya "kanyere"; dan di daerah lain ada yang menyebut "gandrik".
Di saat aku remaja kecil, sekira tahun 1960~an, biji buah kandri yang sebesar gotri roda sepeda ini bisa dijadikan peluru "revolver" mainan, yang bisa membunuh belalang dan capung atau serangga sawah lainnya. (***)
*] Muarabeliti SUMSEL, 11 Jan 2026





