Rabu, 29 April 2026

[1] SEJARAH TUGUMULYO KAB. MUSIRAWAS, SUMSEL


Catatan: Hendy UP *]

1. Mukadimah

    Sepanjang penelusuran dokumen sejarah, baik di Arsip Nasional RI maupun Delpher Nationale Bibliotheek Belanda, kata Toegoemuljo seringkali berdekatan  dengan kata: colony, Moearabeliti, atau Onderafdeeling Moesi Oeloe. 
    Tahap awal Kolonisasi Tugumulyo Musirawas (bukan Tugumulyo OKI), terbangun antara tahun 1937~1940, bersamaan dengan terbentuknya 15 kampung/desa dengan total transmigran 2.486 KK dari Jawa Tengah & Jawa Timur. Lalu terhenti, karena masuk era penjajahan Jepang (1942-1945), dan kelak dilanjutkan pada era kemerdekaan RI sekitar tahun 1952 hingga 1954.
    Kelimabelas desa awal itu adalah: (1) A. Widodo,  (2) B. Srikaton, (3) C. Nawangsasi, (4) D. Tegalrejo, (5) E. Wonokerto, (6) F. Trikoyo, (7) G. Mataram, (8) H. Wukirsari, (9) I. Sukomulyo, (10) J. Ngadirejo, (11) K. Kalibening, (12) L. Sidoharjo, (13) M. Sitiharjo, (14) O. Mangunharjo, dan (15) P. Mardiharjo. Sedangkan desa yang terbentuk pasca-kemerdekaan RI antara tahun 1952 hingga 1954, adalah desa-desa: Q. Buminoto, R. Rejosari, S. Kertosari, T. Bangunsari, U. Pagarsari, dan V. Surodadi.
     Disertasi KJ Pelzer "Pioneer Settlement in The Asiatic Tropics" (1945: hal 222) menyebutkan: "In October 1940, this project had 15 desas, according to an oral statement by the Controleur at Loeboeklinggau. Six hundred and fourteen families had arrived in 1937, 859 in 1938, 423 in 1939, and 590 in 1940. An additional 2,500 families would fill the colony completely".
      Kata Tugumulyo berasal dari kata 'tugu' dan 'mulyo'. Dua kata itu diadopsi dari bahasa Jawa. Secara kajian toponomis, tugu adalah bangunan meninggi  berbentuk silinder meruncing ke atas, terbuat dari batu, bata atau material lain. Tugu, biasanya dibangun di pusat keramaian sebuah komunitas atau di persimpangan jalan sebagai penanda tumbuhnya sebuah peradaban baru. 
      Secara semantik-antropologis, kata tugu menyiratkan nuansa  "keramat", sehingga memaksa seseorang atau komunitas disekitarnya berimajinasi untuk mengingat suatu penanda peradaban baru yang tengah diperjuangkan dan kelak akan meninggalkan jejak ingatan melampaui generasinya .  Sedangkan kata 'mulyo' bermakna 'terpandang' atau 'terhormat'.
     Jadi, para "founding parents" Toegoemoeljo dahulu, niscaya mengidamkan sebuah tatanan masyarakat baru (yang berasal dari Jawa), yang maju secara ekonomi dan terhormat di mata masyarakat sekitarnya. Melahirkan generasi ksatria yang cerdas mencerahkan dan senantiasa mendorong kemajuan bersama. 
     Lebih jauh dari itu, di dalam kepercayaan kuno 'Kapitayan' yang hidup di Jawa jauh sebelum masuknya agama Hindu-Budha dan Islam, diyakini bahwa bangunan 'tugu' adalah tempat suci sebagai penjelmaan dari salah satu sifat utama 'keghoiban' Tuhannya yang disebut Sang Hyang Taya (Tunggal). 
     Untuk meraih sifat utama tersebut, para pemeluknya memerlukan sarana fisikal yang bisa disentuh oleh panca indra. Kedua sifat utama itu disebut "Tuah" dan "Tulah". Maka, simbolitas keramat itu diejawantahkan dalam berbagai benda yang mengandung kata "Tu" atau "To", seperti: Tugu (bangunan suci), Tumbak (senjata sakti), Topeng (perisai muka),Tosan (pusaka) atau  Topong (mahkota raja) dan lain-lain  [lihat: Atlas Walisongo, Agus Sunyoto, 2012, hal. 14].
     Sayang, para pelaku sejarah terutama tokoh transmigran dan pejabat yang terkait dengan penyelenggaraan transmigrasi, tidak banyak meninggalkan dokumentasi sejarah lokal yang bisa dibaca oleh generasi kini dan mendatang. 
      Alhamdulillah, penulis merasa beruntung pernah bertemu dan berbincang dengan sebagian kecil dari mereka. Antara lain:  Bpk. H. Oemar Hasan (mantan Pesirah Proatinlima), Bpk S. Darmadji (mantan Pesirah Trirahayu), Bpk M. Nuzli (tokoh Srikaton), Bpk  Lahuri, Bpk Satirin, Bpk Tauhid (tokoh F. Trikoyo, mantan Ketua KTNA Mura) dan Bpk Rispan (mantan Lurah Q. Buminoto). 
    Penulis juga banyak membaca catatan kesaksian dari mBah RS. Soehoed (mantan Pimpinan Balai Pengobatan Tugumulyo) melalui  koleksi catatan sejarah anak menantunya (Drs. H. Sofian Zurkasie) yang juga mantan pejabat Pemda Musirawas yang bekerja sejak 1963 hingga 1995. [Bersambung...]

*) Muarabeliti SUMSEL, 21 Mei 2023
Resunting 30 September 2025
   

Selasa, 28 April 2026

JEJAK GENEALOGI BAPPEDA MUSIRAWAS SUMSEL [2]

Catatan: Hendy UP *]

A.  Disclaimer
 
Artikel ini bersumber dari: (1) catatan harian penulis selaku alumni Bappeda Mura SUMSEL, (2) buku "Jejak Langkah Orang Musirawas & Lubuklinggau 2005", (3) beberapa website terkait, dan (4) kesaksian para narasumber yang merupakan pensiunan pejabat Pemda Mura. Terima kasih kepada Sdr: (1) Drs. H. Sofian Zurkasi, (2) Bambang Hermanto, SE, MM &  (3) Dr. Ir. H. Suharto Patih, MM, dan (4) Drs. M. Rusdan, MSi atas transfer data dan curahan informasinya. Sekaligus sebagai bentuk kurasi & validasi artikel sejarah ini. 

B. Mukadimah

    Secara fungsional~ teknokratik, organisasi perangkat daerah (OPD)  yang bernama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), baik  pada level provinsi maupun kabupaten/kota, adalah merupakan institusi turunan (derivative institution) Bappenas yang berada di tingkat daerah. Bappenas merupakan satu-satunya lembaga pemerintah yang memiliki portofolio sebagai penyusun kerangka dasar & peta jalan  pembangunan bangsa. Sebuah lembaga kementerian yang sangat strategis dalam merumuskan visi besar pembangunan bangsa.
   Jika kita lacak jejak para petinggi lembaga ini ~ dari awal kemerdekaan hingga awal reformasi ~ sungguh mereka adalah para tokoh visioner, pemberani, berintegritas dan mumpuni di bidangnya. Sebutlah antara lain: AK Gani, Moh. Hatta, Soemitro Djojohadikoesoemo, Moh. Yamin, Ali Sastroamidjojo, Ir. Djuanda, Widjojo Nitisastro, Ruslan Abdul Gani; dan jangan lupa, di era reformasi tercatat nama Kwik Kian Gie seorang ekonom- pemikir yang berintegritas tinggi. 
    Al-kisah, pada  19 Januari 1947 (resminya tercatat,12 April 1947), ketika pertama kali dibentuk lembaga khusus yang menangani sektor perencanaan pembangunan, stabilitas keamanan negara belumlah terwujud, karena masih dalam kondisi darurat perang alias SOB (Staat van Oorlog en  Beleg). 
    Enam belas tahun kemudian, ketika terbit Pen-Pres No. 12 Th 1963 tgl 31 Desember 1963, dibentuklah lembaga Bappenas yang dipimpin oleh Mayjen TNI Dr. dr. H. Soeharto Sastrosoejoso. Beliau adalah salah satu pendiri IDI yang juga mantan dokter pribadi Bung Karno dan Bung Hatta.
   Pada tahun 1961, di level Daerah Swatantra Tk. I (provinsi) dibentuk Badan Koordinasi Pemb. Daerah (Bakopemda) yang kemudian disempurnakan dengan Keppres No. 19 Th 1964. Sedangkan di level Kab. Dati II, baru dibentuk pada tahun 1980 (vide Keppres No. 27 Th 1980 jo Kep-Mendagri No. 185 Th 1980 tentang Pembentukan Bappeda Prov. Dati I dan Kab. Dati II). 

C. Evolusi Kelembagaan Bappenas

    Sejarah evolusi Bappenas dari era 1947 hingga sekarang (2024), setidaknya mengalami 8 kali perubahan, baik status dan nomenklaturnya maupun landasan hukum pembentukannya. Kedelapan kali perubahan status dan nama itu adalah:
(1). Badan Perantjang Ekonomi dibentuk pada 19-1-1947 dipimpin oleh Adnan Kapau Gani;
(2) Panitia Pemikir Siasat Ekonomi  dibentuk pada 12-4-1947 dipimpin oleh Drs. Moh. Hatta;
(3) Dewan Perantjang Negara dibentuk pada 7-1-1952, dipimpin oleh Ir. Djuanda Kartawidjaja, kemudian dilanjutkan Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo;
(4) Dewan Ekonomi & Perencanaan dibentuk dengan PP No. 15 Th 1956 tanggal 6-6-1956 dipimpin oleh Ali Sastroamidjojo;
(5) Dewan Ekonomi & Pembangunan dibentuk dengan  PP No. 3 Th 1957 tanggal 2-8-1957, kembali dipimpin oleh Ir. Djuanda Kartawidjaja;
(6) Dewan Perantjang Nasional ( Depernas) dibentuk dengan UU No. 80 Thn 1958 tanggal 23-8-1958 dipimpin oleh Prof. M. Yamin;
(7) Badan Perenc. Pembangunan Nasional (Bappenas) dibentuk dengan Pen-Pres No. 12 Th 1963 tanggal 31-12-1963 dipimpin oleh Mayjen Dr. dr. H. Soeharto Sastrosoejoso;
(8) Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Bappenas, dibentuk atas dasar UU No. 39 Th 2008 tentang Kementerian Negara, yang melahirkan beberapa PP & Perpres tentang pembentukan organisasi Kementerian PPN, terakhir dengan Perpres No. 194 Th 2024 di era Presiden Prabowo. (Bersambung...) 

*] Muarabeliti SUMSEL, 17 Desember 2024; Rewrite: 21 Juni 2025.

JERAMBAH MUARABELITI (1)

Oleh: Hendy UP *) 

       Dalam KBBI, kata jerambah bermakna "lantai yang berada pada ketinggian, tidak beratap, tempat mencuci pakaian dan/atau perabot dapur dan menjemur pakaian". Tempat semacam itu, di Muarabeliti mungkin yang disebut "garang"  atau "gehang" (dengan dialek khas Muarabeliti). Biasanya terbuat dari susunan bambu tua, berada di luar bangunan utama, tetapi tersambung dengan dapur rumah panggung. Di bawahnya kadang digunakan untuk merendam para (getah karet yang dibekukan) dan pagar kawat (kandang) kuat nan anti maling. 
      Adapun kata jerambah, dalam bahasa tutur masyarakat Muarabeliti dan sekitarnya adalah sinonim dari jembatan. Di era Kolonial Belanda, jerambah sering disebut "brug";   jerambah gantung disebut "hangbrug", penyebrangan sungai disebut "voetgangersbrug". 
       Entah sejak kapan, awal mula dibangun jerambah besi di Muarabeliti; sepanjang pelacakan dokumen bari, saya belum menemukannya.


 Di duga kuat dibangun pada tahun 1900-an saat Kontroleur Muarabeliti mulai eksis, atau pada tahun 1930-an berbarengan dengan pembangunan rel kereta api Palembang ~ Lubuklinggau. 

*) Muarabeliti, 15 Juli 2022

MENJADI SAKSI KEMATIAN MARGA (2)

Oleh: Hendy UP *) 

     Menjelang kematiannya (baca: pembubaran) antara tahun 1978-1983, aku banyak berinteraksi dengan Pemerintahan Marga.  Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bersifat fungsional dalam melayani masyarakat di pedesaan, aku memiliki  wilayah kerja binaan. 



*) Muarabeliti, 20 Mei 2022

Senin, 13 April 2026

M. ZOERKASIE: TOKOH GURU SILAMPARI TIGA ZAMAN


Catatan: Hendy UP *) 

     Di tengah euforia peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2023 ini, ada baiknya kita mengenang salah satu Tokoh Guru di Bumi Silampari di zaman dahulu kala. Tuan Guru Asih. Nama lengkapnya Mochammad Zoerkasie bin  Moch. Tamim.
      Pada era 1940~1960-an, Guru Asih sangat dikenal di wilayah Onderafdeeling Moesi Oeloe. Khususnya di kawasan Muarakelingi, Muarabeliti, Tabapingin dan Lubuklinggau. Dialah salah satu guru di tiga zaman: kolonial Belanda, pendudukan Jepang & era kemerdekaan.
     Guru Asih lahir di  Muarabelitibaru pada 18 Oktober 1910 dan wafat di Lubuklinggau pada 5 Maret 1983. Ia adalah merupakan zuriyat  Pangeran Tarsusi bin Pangeran Moch. Arief dari  Marga Mandiaur. Kerabat genealogisnya berkelindan antara Muarabeliti - Mandiaur, menyebar di sepanjang aliran sungai Musi,  Kelingi dan Beliti, bahkan kawasan Curup dan Empatlawang. 
     Semasa hidupnya, oleh masyarakat Lubuklinggau dikenal sebagai Guru Asih. Namun pasca- pensiun tahun 1966 beliau lebih dikenal sebagai "Neknang Agen Minyak Latung". Beliau sangat telaten nan istiqomah berjualan minyak tanah hingga akhir hayatnya demi membiayai sekolah anak-anaknya. Pangkalan minyaknya persis di pertigaan Simpang RSEA (Reconstruction South East Asian) Talangjawa yang kini menjadi deretan ruko. 
       Salah satu anaknya adalah Drs. H. Sofian Zurkasie  yang pernah menjabat Asisten Wedana Rawas Ulu (1965), Kabag Hukum (1970-1972), Camat BKLU Terawas (1972-1975),   Kadispenda (1978-1984), Kabag Tapem & Capil (1984-1987), dan terakhir sebagai Sekwan Mura,(1987-1995) hingga memasuki masa pensiun.   
     Guru Asih adalah alumni Opleiding Voor Volks Onderwijzen (OVVO) tahun 1929, semacam Sekolah Guru Bantu (SGB). Di jaman itu, di samping ada Sekolah Guru (Kweekschool) yang hanya untuk orang Eropa dan anak pejabat pribumi,  juga ada "Normaal Cursus"  dan Vervolgs School (sekolah sambungan) untuk memenuhi kebutuhan guru desa yang dikhususkan bagi anak-anak Bumi Putera. 
      Guru Asih mulai berkarier  pada tahun 1929 di Sekolah Rakyat (SR) Muarakelingi. Dengan gajinya yang sangat kecil, Guru Asih muda tetap bersemangat mengajar baca tulis hitung bagi anak-anak di Muarakelingi hingga tahun 1947. Pada tahun 1948, Guru Asih dipromosikan menjadi Kepala Sekolah Rakyat   di Muarabeliti hingga tahun 1950. Lokasi Sekolah Rakyat itu di tengah pasar kalangan Muarabeliti (kini Kelurahan Pasar Muarabeliti) sebelum pindah ke lokasi baru yang kini (2023) menjadi Kompleks Gedung SMP Negeri Muarabeliti. 
     Karena prestasinya yang cukup gemilang, maka pada tahun 1951  dipromosikan menjadi Kepala Sekolah Rakyat di Onderneming Tabapingin yang berada di bawah  manajemen NHM-PO (Nederlandsche Handel Maatschaappij - Palm Onderneming).  Yakni sebuah perusahan dagang yang didirikan oleh Ratu Wilhelmina binti Williem III, yang berangan-angan ingin menghidupkan kembali VOC yang telah dinyatakan bangkrut pada 31 Desember 1799.
     Setelah mengabdi selama sembilan tahunan di Onderneming, pada tahun 1958 dipromosikan menjadi Kepala SDN No. 2 Tabapingin,  yang kini (2023) berlokasi di sebelah eks Gedung DPRD Kota Lubuklinggau. Dan pada tahun 1965 menjadi Kepala SDN No. 6 Talangjawa Lubuklinggau. Beliau mengakhiri masa baktinya sebagai kepala sekolah pada 1 November 1966, dan digantikan oleh putra sulungnya H. Syamsul Bahri. 
     Selama lebih kurang 37 tahun pengabdiannya ,  tentulah ada ratusan anak didiknya yang nasibnya jauh lebih baik, merantau-lancong ke berbagai negeri dan meraih aneka penghidupan tinggi yang diberkahi. 
     Banyak anak didiknya yang menghargai gurunya, walaupun ada juga yang lupa-diri.  Di era kini, banyak guru yang dibuli, hanya karena ingin menegakkan disiplin bagi muridnya. Ada yang lebih tragis lagi di  tahun  ini: GURU DIHAKIMI DI PENGADILAN NEGERI, DEMI SEBERKAS DELIK YANG KEHILANGAN JIWA EMPATI. WAHAI PARA GURU, BERJUANGLAH TERUS DEMI MEMPERTAHANKAN HARGA DIRI! 
     
*) Muarabeliti, 25 November  2023