Senin, 13 April 2026

M. ZOERKASIE: TOKOH GURU SILAMPARI TIGA ZAMAN


Catatan: Hendy UP *) 

     Di tengah euforia peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2023 ini, ada baiknya kita mengenang salah satu Tokoh Guru di Bumi Silampari di zaman dahulu kala. Tuan Guru Asih. Nama lengkapnya Mochammad Zoerkasie bin  Moch. Tamim.
      Pada era 1940~1960-an, Guru Asih sangat dikenal di wilayah Onderafdeeling Moesi Oeloe. Khususnya di kawasan Muarakelingi, Muarabeliti, Tabapingin dan Lubuklinggau. Dialah salah satu guru di tiga zaman: kolonial Belanda, pendudukan Jepang & era kemerdekaan.
     Guru Asih lahir di  Muarabelitibaru pada 18 Oktober 1910 dan wafat di Lubuklinggau pada 5 Maret 1983. Ia adalah merupakan zuriyat  Pangeran Tarsusi bin Pangeran Moch. Arief dari  Marga Mandiaur. Kerabat genealogisnya berkelindan antara Muarabeliti - Mandiaur, menyebar di sepanjang aliran sungai Musi,  Kelingi dan Beliti, bahkan kawasan Curup dan Empatlawang. 
     Semasa hidupnya, oleh masyarakat Lubuklinggau dikenal sebagai Guru Asih. Namun pasca- pensiun tahun 1966 beliau lebih dikenal sebagai "Neknang Agen Minyak Latung". Beliau sangat telaten nan istiqomah berjualan minyak tanah hingga akhir hayatnya demi membiayai sekolah anak-anaknya. Pangkalan minyaknya persis di pertigaan Simpang RSEA (Reconstruction South East Asian) Talangjawa yang kini menjadi deretan ruko. 
       Salah satu anaknya adalah Drs. H. Sofian Zurkasie  yang pernah menjabat Asisten Wedana Rawas Ulu (1965), Kabag Hukum (1970-1972), Camat BKLU Terawas (1972-1975),   Kadispenda (1978-1984), Kabag Tapem & Capil (1984-1987), dan terakhir sebagai Sekwan Mura,(1987-1995) hingga memasuki masa pensiun.   
     Guru Asih adalah alumni Opleiding Voor Volks Onderwijzen (OVVO) tahun 1929, semacam Sekolah Guru Bantu (SGB). Di jaman itu, di samping ada Sekolah Guru (Kweekschool) yang hanya untuk orang Eropa dan anak pejabat pribumi,  juga ada "Normaal Cursus"  dan Vervolgs School (sekolah sambungan) untuk memenuhi kebutuhan guru desa yang dikhususkan bagi anak-anak Bumi Putera. 
      Guru Asih mulai berkarier  pada tahun 1929 di Sekolah Rakyat (SR) Muarakelingi. Dengan gajinya yang sangat kecil, Guru Asih muda tetap bersemangat mengajar baca tulis hitung bagi anak-anak di Muarakelingi hingga tahun 1947. Pada tahun 1948, Guru Asih dipromosikan menjadi Kepala Sekolah Rakyat   di Muarabeliti hingga tahun 1950. Lokasi Sekolah Rakyat itu di tengah pasar kalangan Muarabeliti (kini Kelurahan Pasar Muarabeliti) sebelum pindah ke lokasi baru yang kini (2023) menjadi Kompleks Gedung SMP Negeri Muarabeliti. 
     Karena prestasinya yang cukup gemilang, maka pada tahun 1951  dipromosikan menjadi Kepala Sekolah Rakyat di Onderneming Tabapingin yang berada di bawah  manajemen NHM-PO (Nederlandsche Handel Maatschaappij - Palm Onderneming).  Yakni sebuah perusahan dagang yang didirikan oleh Ratu Wilhelmina binti Williem III, yang berangan-angan ingin menghidupkan kembali VOC yang telah dinyatakan bangkrut pada 31 Desember 1799.
     Setelah mengabdi selama sembilan tahunan di Onderneming, pada tahun 1958 dipromosikan menjadi Kepala SDN No. 2 Tabapingin,  yang kini (2023) berlokasi di sebelah eks Gedung DPRD Kota Lubuklinggau. Dan pada tahun 1965 menjadi Kepala SDN No. 6 Talangjawa Lubuklinggau. Beliau mengakhiri masa baktinya sebagai kepala sekolah pada 1 November 1966, dan digantikan oleh putra sulungnya H. Syamsul Bahri. 
     Selama lebih kurang 37 tahun pengabdiannya ,  tentulah ada ratusan anak didiknya yang nasibnya jauh lebih baik, merantau-lancong ke berbagai negeri dan meraih aneka penghidupan tinggi yang diberkahi. 
     Banyak anak didiknya yang menghargai gurunya, walaupun ada juga yang lupa-diri.  Di era kini, banyak guru yang dibuli, hanya karena ingin menegakkan disiplin bagi muridnya. Ada yang lebih tragis lagi di  tahun  ini: GURU DIHAKIMI DI PENGADILAN NEGERI, DEMI SEBERKAS DELIK YANG KEHILANGAN JIWA EMPATI. WAHAI PARA GURU, BERJUANGLAH TERUS DEMI MEMPERTAHANKAN HARGA DIRI! 
     
*) Muarabeliti, 25 November  2023 

0 komentar:

Posting Komentar