Catatan: Hendy UP *]
Menjelang tegak hari, di bawah bentang langit yang berawan-asap, kami menyaksikan liang lahat itu perlahan berubah menjadi gundukan tanah merah. Di dalamnya, telah "tertidur" pulas sahabat Tatang.
Agregat podsolik itu menyatu liat, karena diinjak-injak kaki orang yang menyayangi jazad almarhum: istri, anak-anak dan kerabat dekatnya. Ada sepasang kaki kekar temanku, Ir. Subardi, yang antusias nimbrung memadatkan gundukan tanah. Aku tak berani menduga, untaian doa apa yang dirapal sahabatku itu.
Yaa, pada hari Selasa, 6 Oktober 2026 itu, kami berkhidmat mengaminkan doa panjang yang dipanjatkan Mas Sudjiono, di tengah hamparan TPU Lestari Lubuklinggau. Almarhum Tatang telah dipanggil "pulang", pada Senin siang, 5 Oktober 2026 di RSMH Palembang.
Aku tak pernah menyangka, bahwa ternyata TPU Tabalestari adalah kampung terakhirnya; dan aku bersyukur bisa mengantar dia "pulang", setelah 68 tahun dia "fantasyiru fil ardi" mengikuti takdir-Nya.***
Namanya Tatang Suparno. Nama khas sisa peradaban Sunda; dan dia datang dari Bandung 46 tahun yang lalu. Berkarier sebagai PNS di Dinas Pertanian Kab. Musirawas hingga memasuki masa pensiun. Qodarullah, ajalnya telah tiba, mendahului kita semua.
Aku & mas Bardi perlahan meninggalkan area TPU di belakang istri & anak-anak almarhum. Di bawah terik mentari yang mulai menyengat, tiba-tiba aku teringat 46 tahun yang lalu, ketika pertama kali berjumpa dengan almarhum.
Suatu hari di akhir tahun 1980, di tengah keasyikanku menghitung produksi padi di sebuah ruangan di Kantor Camat Muarabeliti, datanglah seorang pemuda berbeban ransel gunung di punggungnya. Aku menjawab salamnya sembari mempersilakan masuk & duduk di kursi tamu.
Tamu itu adalah Tatang Suparno yang baru datang dari Bandung. Dengan membawa selembar surat PENUNJUKAN TUGAS dari Dinas Pertanian Kab. Mura, Tatang bermaksud menghadap Mantri Tani Muarabeliti yang kala itu dijabat oleh Pak Bazid Sulton, yang kebetulan sedang tugas luar. Dan aku berstatus sebagai Penyuluh Pertanian yang merangkap sebagai staf Kacabdin Pertanian Muarabeliti.
Ke-esokan harinya, atas perintah Mantri Tani, aku disuruh mengantarkan Tatang ke Desa Margamulya agar diperbantukan kepada Sdr. Trisman Nazarudin, sesuai bunyi surat tugas yang ditandatangani oleh Pak Abuwazir selaku Sekretaris Bimas Kab. Mura. Kala itu Sdr. Trisman yang masih lajang dengan senang hati menampung Tatang dan tinggal bersama di rumah kontrakannya di Jalan KBS Margamulya. ***
Setelah sekian lama bergaul, aku cukup tahu karakternya. Almarhum hobi olahraga badminton, bahkan sering menjuarai berbagai event kompetisi di level kabupaten & provinsi. Dia adalah pekerja keras dan sangat bersemangat dalam mencari rizki, apa pun jenis pekerjaannya.
Ketika aku menjabat kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Yudhakarya tahun 1982, dialah yang membuatkan plang papan nama lembaga di depan kompleks perkantoranku. Tahun 1993, ketika kami menjadi pembina BPP Nibung (kini Muratara), pernah mendorong motor sejauh 13-an km hingga di Simpang Nibung Trans Sumatera. Sungguh menguras peluh nan melelahkan jiwa!
Dahulu, jika ada event pameran pembangunan, dia bersama seniornya Adeng Djaenuddin, adalah tenaga andalan yang "mengindahkan" Stand Pameran hingga lembur bermalam- malam. Jika ada kegiatan pengujian, almarhum Tatang selalu siap membuatkan aneka merk papan plot dengan berbagai ukurannya. Pendek kata, almarhum Tatang adalah orang baik, humble dan suka bekerja keras serta penuh tanggung jawab.
Semoga almarhum Tatang pulang dengan husnul khotimah, diampuni dosa-dosanya, diterima amal shalehnya dan dikuat-sabarkan keluarganya yang ditinggalkan.
"Allohumagh firlahu, warhamhu wa'afihi wa'fu anhu".
Dan semoga pula, kepulangannya disambut oleh Robbnya dengan sapaan lembut: "Yaa ayyatuhan nafsul mutma'innah. Irji'i ila Robbiki rodiyatam mardiyyah. Fadkhuli fi 'ibadi, wadkhuli jannati". (***)
*] Muarabeliti SUMSEL, 6 Oktober 2026






0 komentar:
Posting Komentar