Kamis, 03 September 2026

PALEMBANG, 22 AGUSTUS 1945


Catatan: Hendy UP *]

    Mungkin aku tergolong 'homo narrans': makhluk yang suka bertutur kisah dan menyukai penelusuran fakta sejarah. Dan kali ini aku tukilkan kisah 'menegangkan' para pejuang kemerdekaan di Palembang pada Rabu pagi 22 Agustus 1945, dan hari-hari berikutnya. 
    Cerita ini bersumber dari dokumen sejarah pejuang SUMSEL yang diterbitkan oleh Djawatan Penerangan SUMSEL pada perayaan HUT RI ke-9 tanggal 17 Agustus 1954. Dokumen setebal 826 halaman itu disusun oleh tim redaksi khusus, pada era kepempinan Buya M. Rasjid Thalib (Pjs 1953~1954), seorang tokoh Masjumi SUMSEL, yang menggantikan Abdul Somad Sumadi (AS Sumadi) sebagai kepala Djawatan Penerangan SUMSEL (1950~1953). 
    Tim khusus tersebut diketuai oleh ML Tobing dengan anggota: KM Zein Mukti, R. Sumadi Tjokrowilogo, A. Kowi, Asnawi Sa'id, Jusuf Ismail, A. Baidjuri, Zaini Abubakar, Umar A. Hamid, Hadi Usmani, Marzuki, Anwar Effendi & R. Sugito. Juga disuplai bahan materi tulisan dari para tokoh pejuang: Nungtjik AR, A. Arifin, AA Harahap dan Zainal Abidin. 
    Al-kisah, Rabu pagi itu, datanglah undangan kepada para tokoh pejuang SUMSEL untuk hadir di rumah pimpinan militer (Tyokan) wilayah Palembang yang bernama Myako Toshio. Padahal, sebagian tokoh sedang berada di luar kota dalam rangka konsolidasi kekuatan Badan Keamanan Rakyat di daerah-daerah. Maka, hadirlah sebagian para pejuang itu dipimpin oleh Abdul Rozak & Nungtjik AR, ditemani yang lainnya yakni: Raden Hanan, Asaari, Ir. Ibrahim, Bay Salim, H. Tjikwan, Salim Paiman, Parmono dan Yap Tian Ho. 
    Di rumah pembesar Djepang itu, sudah ada Myako Toisho yang didampingi Matsubara, Syomubutjo & Tokkokatyo. Menurut Nungtjik AR, mereka tampak lesu darah & bermata sembab bekas menangis. Mungkin mereka menangis dari semalaman. 
    Myako Toisho memberitahu bahwa pimpinan Jepang Tenno Heika telah memerintahkan agar peperangan dengan Sekutu dihentikan; dan agar rakyat menjaga keamanan bersama tentara Jepang. Tapi dlm pertemuan itu tak sepatah kata pun,  memberitahukan tentang kemerdekaan RI. Padahal, secara diam-diam para tokoh pejuang di Palembang ini sudah mendapat berita  dari Djakarta bahwa telah diproklamirkan kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno~Hatta pada 17 Agustus 1945, lima hari yang lalu. Berita ini diperoleh dari tokoh pemuda bernama Mailan, yang kala itu bekerja sebagai pegawai "Palembang Shinbun" sebuah jaringan  kantor berita Domei Jepang. Namun kala itu, para tokoh pejuang SUMSEL belum memahami duduk persoalan secara rinci tentang langkah selanjutnya di daerah dalam menyambut kemerdekaan RI. 
    Malam harinya, setelah para pejuang kembali ke Palembang, diadakan rapat hingga larut malam di rumah Dr. AK Gani, yang juga bertindak sbg pimpinan rapat. Intinya, diputuskan bahwa para tokoh pejuang akan segera melakukan pengalihan 'kekuasan' pemerintahan di Palembang dari penjajah Jepang ke para tokoh pejuang di Palembang dengan cara berunding (diplomasi). 
    Besoknya, Kamis, 23 Agustus 1945, disusun rencana pengalihan kekuasaan di wilayah Palembang kepada Dr. AK Gani & Abdul Rozak masing-masing sebagai Kepala Pusat  & Wakil Pemerintahan Bangsa Indonesia di wilayah Keresidenan Palembang. Bersama mereka adalah: Dr. M. Isa, Tjik Den, Ir. Ibrahim, RM Mursodo, H. Tjikwan, Rd. Hanan, Asaari, RM Oetojo, R. Zainal Fanani, dan Nungtjik AR. 
    Malamnya, para tokoh ini kemudian menghadap petinggi Jepang, tetapi tidak memperoleh petinjuk apa pun. Dan, besoknya, Jumat petang, 24 Agustus 1945, datanglah para petinggi dari Jakarta, yakni: Dr. M. Amir, Mr. Teuku Mohammad Hasan dan Mr. Abas, menemui para tokoh SUMSEL untuk menyusun strategi & langkah konkrit dalam proses pengalihan kekuasaan. 
    Kemudian, mereka menemui petinggi Jepang dan menyatakan bahwa Bangsa Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaan RI di Jakarta pada 17 Agustus 1945. Maka, selanjutnya pengambilalihan kekuasaan ke tangan rakyat Indonesia tidak lagi memedulikan keberadaan petinggi Jepang & hanya menuruti petinggi RI di Djakarta.. ***

*] Muarabeliti SUMSEL, 22  Agustus 2026